Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Ketika Heryawan Menjadi Ayah bagi Ratusan Orang Gila

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/Aher_di_Keris_Nangtung-1.jpg
    TASIKMALAYA - Tiba-tiba Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, menjadi ayah bagi 125 penyandang sakit jiwa. Namun, bukan ayah bagi bocah. Mereka bahkan hanya beberapa anak usia di bawah lima tahun (balita) dan remaja. Sebagian besar justru kaum dewasa. 
     
    Salah seorang di antaranya terus memegangi tangan Gubernur yang disapanya Aher. "Mau ketemu Kang Aher. Mau ketemu Kang Aher...," begitu rengeknya si remaja perempuan, tidak tahu sosok ayah yang digelayutinya adalah orang yang dimaksud.
     
    Namun, Heryawan dengan tenang meladeni. Dia mencurahkan kasihnya ke 'putri'nya itu. "Iya... ini Kang Aher. Baik-baik ya.... Cepat sembuh ya...," tuturnya lembut.
     
    Adalah Dadang Heriadi yang berdiri di samping Aher yang justru tampak grogi plus cemas. Pendiri dan pengasuh Yayasan Keris Nangtung ini berusaha menyudahi rengekan asuhannya.
     
    "Saya itu khawatir kalau tiba-tiba dia berteriak di samping Gubernur. Biasanya dia begitu bila berharap kedatangan seseorang. Dia memang sudah lama menunggu kedatangan Kang Aher," Dadang bercerita.
     
    Begitulah suasana kedatangan Gubernur Ahmad Heryawan di yayasan yang menjalankan fungsi rehabilitasi sosial cacat mental atau eks psychotic di bekas terminal Cilembang, Kota Tasikmalaya, Jabar, Sabtu siang, 31 Agustus 2013.
     
    Panti tersebut kini menangani 125 penderita sakit jiwa. Sebanyak 74 orang di antaranya perempuan, mulai balita, remaja hingga ibu-ibu.
     
    Usai bersama putrinya yang manja itu di ruang depan, Heryawan melangkah ringan ke ruang dalam. Di sini para penderita berkumpul.  
     
    Memang, siang itu, orang gila --begitu masyarakat umum biasa menyebut-- yang dihidupi Keris Nangtung jauh berbeda ketika pertama kali dijemput Dadang. Mereka kini berpakai rapi dan tidak "seliar" ketika masih hidup di jalan.
     
    Meski begitu, 'putra-putri' ini tersebut masih belum normal. Misalnya, mereka masih buang hajat di sembarang tempat. Karenanya, tempat tinggalnya yang sempit berbau tidak sedap. Walaupun pengasuhnya berusaha keras membersihkan kamar dan halaman sekitarnya.
     
    Namun, Heryawan menemui para penderita sakit mental seperti memasuki rumah sendiri. Salah seorang gubernur muda dan sarat penghargaan dari pemerintah pusat ini sama sekali tidak sungkan duduk sama rendah dengan anak-anaknya.
     
    Walikota Tasikmalaya Budi Budiman, yang menyaksikan "aksi" Gubernur, terlihat senyum-senyum. Beda justru dengan Dadang yang galau, khawatir ada asuhannya yang tiba-tiba bertindak di luar kontrol.
     
    Ngobrol sana-sini tidak hanya dilakukan terhadap satu-dua penghuni Keris Nangtung. Seolah hendak berlaku adil, Gubernur Heryawan menyapa satu demi satu. Mulai dengan menanyai nama, asal, dan seterusnya. Tak lupa dirinya menyatakan doanya semoga warganya yang kurang beruntung tersebut cepat sembuh.
     
    Tak jelas memang, apakah penghuni panti rehabilitasi swasta mandiri made in Tasikmalaya itu, mengerti sepenuhnya siapa yang dihadapinya. Begitu pula isi obrolan sesungguhnya.
     
    Namun, apapun, demikianlah seorang pemimpin berperilaku kepada warganya. Dia harus mengayomi warganya tanpa membedakan kasta sosial dan keadaannya. Bahkan lapisan masyarakat seperti penderita sakit jiwa dimaksud yang perlu diperhatikan lebih serius.
     
    Bagi Dadang sendiri, ia menyatakan, sangat terharu Gubernur Heryawan bertandang ke pantinya yang sangat sederhana. Dia juga berbahagia karena persoalan tempat penampungan asuhannya ditanggapi serius oleh Gubernur.
     
    "Dengan koordinasi dengan Walikota Tasikmalaya, saya mengusahakan semoga secepatnya Keris Nangtung memperoleh tempat tetap dan representatif. Jika memungkinkan ada lahan untuk bercocok tanam dan kegiatan positif lain," ungkap Heryawan.
     
    Hari itu, Gubernur Heryawan menyampaikan bantuan tahap pertama berupa 2,7 ton beras dari total lima ton. Bantuan ini berasal dari Badan Ketahanan Pangan Jabar.
     
    Yayasan Keris Nangtung berdiri pada 2008 atas prakarsa Taofik Ahmad Rifai, Dadang Heriadi, dan Rofi. Mereka bersusah payah membangun dan mempertahankan keberadaan Keris Nangtung karena prihatin atas banyaknya penderita cacat mental yang berkeliaran di jalanan.
     
    Awal berkiprah, yayasan sosial ini menempati sebuah gubuk di kawasan Rancamaya, Kota Tasikmalaya. Selanjutnya pindah ke kompleks eks Terminal Cilembang. Namun, tak lama lagi harus pindah karena fasilitas umum milik pemerintah kota akan dipergunakan.
           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus