Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Para Ketua RW Prakarsai Pembuatan Biopori

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_8203.JPG

    CIMAHI-Walikota Cimahi, Hj. Atty Suharti mengungkapkan, di Kota Cimahi masih terdapat sejumlah lokasi yang terkena musibah banjir apabila musim hujan. Berbagai solusi terus diupayakan untuk mencegah musibah tahunan tersebut. Salah satunya, pembuatan biopori oleh masyarakat sejak tahun 2012 lalu.

    “Pembuatan biopori tersebut diprakarsai oleh para Ketua RW setempat,” ungkap Walikota Cimahi, Hj. Atty Suharti dalam acara Dialog Pendidikan di Gedung A Kompleks Perkantoran Pemerintah Kota Cimahi, Jalan Raden Demang Hardjakusumah, Kota Cimahi, Rabu (5/2).

    Dialog dengan Thema Aspek Akhlak Mulia dan Cinta Lingkungan Hidup dalam Pembentukan Karakter Remaja tersebut, dihadiri oleh perwakilan dari Kantor Kementrian Agama Kota Cimahi, Kejaksaan Negeri Kota Cimahi, Polres Cimahi, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Agama Islam dan Ketua MUI Kota Cimahi, K.H.Hafidz Suyuti.

    Salah seorang Ketua RW di Kelurahan Cigugur Tengah, Kecamatan Cimahi Tengah, Slamet mengungkapkan, sejak adanya biopori yang dibuat di lingkungan RW nya, yaitu sejak tahun 2012 lalu, di wilayahnya tidak ada genangan air lagi. Air meresap ke dalam tanah melalui lubang resapan biopori tersebut.

    Biopori, jelas Slamet, merupakan teknologi tepat guna ramah lingkungan untuk mengatasi genangan air atau untuk mencegah banjir. Cara membuatnya cukup mudah. Pertama, buat lubang secara vertical ke  dalam tanah dengan diameter 10 cm. Kedalaman lubang kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal.


    Jarak antar lubang antara 50 cm sampai 100 cm. Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2-3 cm dengan tabal 2 cm di sekeliling mulut lubang. Kemudian isi lubang dengan sampah organic yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedauanan atau pangkasan rumput.

    Sampah organic tersebut perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan. Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.


    “Kita harus rajin menjaga agar lubang resapan selalu penuh terisi sampah organic. Jika sampah organic belum cukup, maka disumbatkan di bagian mulut lubang tersebut sehingga lubang tidak akan terisi tanah atau pasir,” katanya. (enal)

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus