Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kenapa Sebagian Kedelai Harus Kita Impor ?

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_8863.jpg

    SUBANG-Kebutuhan kedelai dalam negeri masih tinggi, yaitu 2,2 juta ton per tahun baru terpenuhii 843,1 ribu ton atau kurang dari 45%. “Oleh karena itu, ini merupakan tantangan bagi kita. Kenapa sebagian kedelai harus kita impor?” kata Menteri Pertanian, Suswono dalam sambutannya pada kegiatan Pencanagan Gerakan Perluasan Tanam Kedelai 2014 Oleh Menteri Pertanian. Hadir pada kesempatan itu Panglima TNI dan Kasad di Wilayah Kodam III Siliwangi, Sekda Prov. Jabar, Wawan Ridwan mewakili Gubernur, di Desa Ponggang Kecamatan Serangpanjang Kabupaten Subang, Rabu (14/5).

    Gerakan Perluasan Tanam Kedelai 2014 ini sebagai komitmen TNI yang memandang Ketahanan pangan sebagai Pertahanan Negara yang utama. Menurut Suswono gerakan ini berdasarkan nota kesepahaman antara TNI dengan Kementerian Pertanian yang ditandatangani 13 April 2014 lalu, yang meliputi 4 kabupaten wilayah Pantura, yaitu Cirebon, Indramayu, Subang dan Karawang yang dipusatkan di Desa Ponggang Kecamatan Serangpanjang Kabupaten Subang.

    Suswono menyampaikan, bahwa pada tahun 1992, Indonesia pernah sukses swasembada kedelai. Pada waktu lahan yang ditanami kedelai seluas 1,6 juta hektar dan harganya satu setengah kali harga beras pada waktu itu Bulog sebagai penyangga. “Jadi sempurnalah ada perlindungan bagi petani-petani kedelai. Jadi petani bersemangat,” jelasnya. Tetapi kemudian Bulog tidak lagi menjadi penyangga dan impor dibebaskan, sedangkan harga kedelai impor jauh lebih murah, maka lambatlaun petani mulai meninggalkan menanam kedelai.

    Seiring perubahan iklim, harga kedelai di pasar internasional mulai menarik. Maka perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya. ”Mari kita bangkitkan kepada petani untuk cinta menanam kedelai,” tambahnya.

    Ada jaminan harga dari Bulog minimal 7.500 rupiah per kg. Harga pasar sebesar 8 ribu. ”Marilah kita manfaatkan lahan-lahan untuk dioptimalkan untuk menanam kedelai,” tambahnya lagi.

    Di wilayah Pantura bila musim kemarau lahan-lahan diistirahatkan padahal ada potensi kedelai yang sedang menguntungkan. Untuk wilayah Subang itu sendiri disediakan lahan seluas 2500 hektar untuk menanam kedelai. Diupayakan rasio produksi sebanyak 2 ton pr hektar.

    Dalam sambutan Panglima TNI, Jendral Moeldoko mengatakan bahwa doktrin Pertahanan Republik Indonesia ialah Pertahanan Rakyat Semesta. Pertahanan yang melibatkan seluruh sumber daya nasional saat negara ini diserang oleh negara lain. Diingatkan seperti persoalan ketahanan pangan sudah menjadi isu nasional. Negara-negara penghasil pangan di dunia sekarang berupaya menyelamatkan produksinya untuk kepentingan dalam negerinya. Diantaranya Vietnam dan Thailand sebagai negara pengekspor beras telah mengamankan produksi untuk kebutuhan dalam negerinya. Begitu pula Amerika, sekarang sudah meningkatkan industri produksi gandum daripada industri baja. Bahkan dimasa depan ada kebijakan melalui pangan didalamnya bisa dijadikan alternatif subtitusi energi. ”Untuk itu saya ingin mengingatkan jangan sampai kita punya duit tetapi barangnya tidak ada. Karena negara-negara lain telah siap-siap mengamankan untuk kebutuhan dalam negerinya,” ujar Panglima TNI.

    Sedangkan Gubernur Jawa Barat dalam sambutannya menyampaikan, bahwa kita perlu mengantisipasi 3 macam krisis, yaitu krisis air, krisis pangan dan  krisis energi. ”Menurut para ahli, diantara 3 krisis tadi yang paling berbahaya ialah krisis air dan krisis pangan,” ujar Gubernur. Oleh karena itu melalui gerakan ini bisa mengantisipasi krisis pangan,” ujar Heryawan. Tetapi kebanggaan untuk petani dan penyuluh pertanian di Jawa Barat patut dibanggakan. Walaupun luas lahannya sedikit dibandingkan provinsi lain, tetapi sepanjang sejarah Jawa Barat menjadi lumbung padi produksi beras nasional.

    Pada kesempatan tersebut disampaikan bantuan dari Menteri Pertanian RI berupa 122 unit traktor, 1 unit cultivator, 4 unit rice transplanter, 2 unit choopper, 56 unit pompa air dan bantuan saprodi untuk 4 kabupaten serta bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupa 52 unit handtractor. Penyerahan secara simbolis kepada perwakilan petani oleh Gubernur Jawa barat, Ahmad Heryawan, Panglima TNI dan Menteri Pertanian.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus