Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Siswa SMA/SMK Ikuti Seminar Budaya Sunda

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_9100.jpg

    BANDUNGKAB-Sedikitnya 585 siswa SMA/SMK yang tertampung dalam Himpunan Pengurus OSIS (HIPOSIS) Kabupaten Bandung, mengikuti kegiatan Seminar Budaya Sunda Dan Pendidikan Karakter Bangsa, di Gedung Moch.Toha Soreang, Kamis (20/06).
     
    Kegiatan seminar, secara resmi dibuka Bupati Bandung H.Dadang Mochamad Naser, SH, S.Ip, dihadiri Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bandung, Drs.H.Agus Firman Zaini, M.Si serta puluhan guru dan kepala sekolah se-Kabupaten Bandung.
     
    Panitia penyelenggara, Ketua HIPOSIS Kabupaten Bandung, Nijan Ihksan mengatakan seminar digelar, selain untuk mempererat silaturahmi seluruh anggota OSIS SMA/SMK se-Kabupaten Bandung, kegiatan juga ditujukan untuk melestarikan budaya Sunda dan meningkatkan mutu pendidikan karakter bangsa.
     
    Inisiatip HIPOSIS Kabupaten Bandung ini, mendapat apresiasi yang tinggi dari Bupati Dadang Naser.  Dadang menilai, siswa-siswi telah ikut berperan serta mengambil ranah posisi dalam mewujudkan kelestarian budaya sunda. “Hal ini menandakan, kepekaan generasi muda Kabupaten Bandung untuk ikut melestarikan budaya sunda yang sangat tinggi”, ujar Dadang Mochmad Naser.
     
    Perkembangan dan kemajuan jaman, menurut Dadang ikut mempengaruhi terkikisnya budaya sunda. “Satu contoh, penggunaan bahasa “ibu” oleh kalangan generasi muda dalam kehidupan sehari-harinya semakin jarang kita temui, padahal bahasa merupakan aspek terkuat dari budaya, kini telah terkikis secara perlahan oleh arus globalisasi”, kata Dadang Naser
     
    Tentang pelestarian budaya, kata Dadang, kita patut meniru negara Jepang. Negara sakura ini kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya. “Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang sangat pesat, namun sisi budaya dan tradisionalnya masih terus dilestarikan hingga sekarang”, ungkap Dadang Naser.
     
    Diakui Dadang, budaya sunda identik dengan budaya religius. Hal itu merupakan konsekuensi logis dari pandangan hidupnya yang berdasarkan pada ajaran agama, yakni islam.
     
    Sebagai masyarakat sunda, tentunya kita mesti berbangga karena memiliki budaya dan tradisi sabilulungan yang patut dilestarikan. Dalam pengertian sederhana, tambah Dadang, sabilulungan berarti silih asah, silih asuh dan silih asih, saling mendukung dan bekerjasama dalam melakukan sesuatu yang didasari oleh kesadaran dan tanggungjawab bersama dan rasa kebersamaan.
     
    Lebih jauh Dia menjelaskan, Sabilulungan dilandasi pula oleh nilai luhur ke-islaman dalam konteks Habluminalloh dan Habluminannas, “Sehingga setiap gerak langkah sabilulungan dalam seluruh aspek kehidupan pada hakekatnya merupakan ibadah kepada Alloh WST”, tukasnya pula.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus