Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Media Bisa Picu Kekerasan Seksual

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_9778.jpg

    BANDUNGKAB-Harmonisasi dan komunikasi keluarga yang tidak terbina dengan baik ternyata dinilai dapat  menjadi faktor pemicu terjadinya Kekerasan Seksual terhadap Anak (KSA). Disamping itu, mudahnya akses informasi yang diperoleh sang anak dari berbagai media pun bisa menjadi pemicu.
     
    Hal itu diungkapkan Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Bandung, Hj. Kurnia Agustina Dadang M.Naser ketika membuka kegiatan Seminar Kenakalan Remaja dan Kekerasan Seksual Terhadap Anak Usia Dini yang berlangsung di Rumah Makan PONYO, Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi, Kamis (25/09).
     
    Pembinaan yang dimaksud Kurnia diantaranya adalah orangtua memberi perhatian, kasih sayang dan memberikan pendidikan karakter pada anak-anaknya. Pada umumnya, seorang anak akan mencari perhatian dan kasih sayang orangtuanya. “Kasih sayang ini bisa diberikan para orangtua manakala komunikasi orangtua dengan sang anak dijalin dengan baik”, ungkap Kurnia Dadang Naser.
     
    Dengan komunikasi yang baik pula, menurut Kurnia anak-anak akan menyerap berbagai informasi dari para orangtuanya sehingga anak-anak pun menjadi tahu bahaya yang mengintai di sekelililing teman bermainnya.
     
    ”Jangan pernah tabu untuk menjelaskan pendidikan seks kepada anak-anak kita, karena kita tidak pernah tahu jika orang yang berbahaya bagi buah hati kita itu, bisa saja muncul dari orang yang terdekat dan kita kenal sehari-hari”, tuturnya pula.
     
    Kurnia menambahkan, anak-anak adalah peniru terbaik dari prilaku orangtuanya. Ketika Ia melihat apapun dalam lingkungan atau perbuatan orangtuanya sang anak akan langsung merekam dan mempraktekannya. Mudahnya akses informasi terhadap kekerasan, pornografi, seks ataupun pembunuhan lewat berbagai media, bisa juga menyebabkan terjadinya kekerasan seksual tersebut.
     
    “Agar hal itu tidak terjadi dengan anak-anak kita, peliharalah komunikasi yang baik dengan mereka, pilah dan batasilah mereka pada saat melihat tayangan-tayangan di media massa yang dapat berpengaruh buruk dalam kehidupannya”, tandasnya pula.
     
    Kegiatan yang digagas oleh Pemerintahan Cileunyi ini digelar dalam upaya pencegahan dan mengantisipasi peristiwa KSA tidak terjadi lagi di Kabupaten Bandung khususnya di Kecamatan Cileunyi. Seperti diketahui sebelumnya, Kabupaten Bandung masih berduka atas peristiwa KSA yang menimpa 21 anak di Kecamatan Dayeuhkolot pada beberapa waktu lalu.
     
    Seminar diikuti oleh seluruh civitas pendidikan se-Kecamatan Cileunyi terdiri dari para pendidik PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), TK, IGRA, para kepala sekolah, serta unsur PKK baik tingkat desa maupun kecamatan.
     
    Pada kesempatan itu dilakukan Pendeklarasian Kesepakatan Pemerintah Kabupaten Bandung dalam upaya mencegah terjadinya KSA di Kabupaten Bandung. Deklarasi tersebut di tandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan Dan Kebudayaan H.Agus Firman Zaini. M.Si, Kepala Dinas Sosial, Dra.Hj.Nina Setiana, M.Si, Ketua TP PKK Kurnia Dadng M.Naser, Camat Cileunyi Wawan A.Ridwan, Kapolsek Cileunyi Asep Gunawan, SH serta tokoh agama dan masyarakat setempat.
     
    Menurut Camat Cileunyi, Wawan A.Ridwan walaupun di wilayahnya tidak terjadi KSA, namun bukan berarti pihaknya diam dan tidak melakukan upaya-upaya pencegahan. Kasus KSA di Dayeuhkolot menjadi cerminan baginya, untuk cepat tanggap melakukan berbagai upaya seperti sosialisasi ataupun seminar-seminar agar kejadian tersebut tidak terjadi di wilayahnya.
     
    “Kegiatan seminar ini, saya nilai bisa menjadi salah satu upaya Kami untuk mengantisipasi agar KSA tidak terjadi di Cileunyi. Melalui kegiatan ini, para pendidik bisa memperoleh berbagai informasi tentang berbagai hal yang bisa mencegah  KSA untuk disampaikan pada anak didiknya”, ungkap Wawan Ridwan.
     
    Sementara Agus Firman Zaini mengatakan, dalam melakukan pencegahan KSA di lingkungan pendidikan terutama di lingkungan sekolah, pihaknya telah menerapkan kebiasaan SAPA atau Salam Pagi antara guru dan muridnya.
     
    Kebiasaan ini wajib dilakukan oleh sang guru kepada anak didiknya, terutama lingkungan sekolah dasar yang rentan menjadi korban KSA. “Kegiatan SAPA ini bisa dilakukan oleh para guru ketika menyambut anak didiknya di pintu gerbang sekolah, sehingga sang guru pun dapat mengetahui dan mengenali siapa yang mengantar jemput anak didiknya”, ungkap Agus Firman.
     
    Narasumber kegiatan, Staf Pengajar Psikologi UPI Bandung, Sri Maslihah, Psi menghimbau para orangtua untuk selalu mengajarkan wilayah privasi dan konsep aurat kepada anak-anaknya. “Wilayah pribadi mana yang bisa dilihat dan yang tidak boleh dilihat orang lain, siapa yang boleh  mengelus dengan kasih sayang dan siapa yang bisa menyentuh dirinya. Sehingga si anak akan mengerti dan berontak manakala ada hal-hal yang menurut mereka dapat membahayakan dirinya”, ujar Sri Maslihah
     
    Ia juga mengatakan kebiasaan mandi bersama, yang selalu dilakukan anak-anak sejak kecil sebaiknya dihindari. “Karena kebiasaan itu bisa memicu pula terjadinya KSA, seandainya anak-anak tersebut tidak mengetahui konsep aurat dan wilayah privasi yang seharusnya mereka jaga”, tandasnya pula.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus