Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

berita

Website Resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat
  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Lahan Kritis di Kab.Bdg, Capai 59,969,39 H

    https://jabarprov.go.id/assets/images/berita/gambar_9993.jpg

    BANDUNGKAB-Kekhawatiran Pemkab Bandung terhadap munculnya lahan kritis memang tidak berlebihan. Mengingat luas lahan kritis di Kabupaten Bandung sampai akhir tahun 2010, telah mencapai ± 59.969,39 Ha yang tersebar di Kecamatan dan 129 desa.

    Bupati Bandung H. Dadan Mochamad Naser, SH, S.Ip memproyeksikan, hingga akhir tahun 2015 luas lahan kritis bisa berkurang menjadi 37.892,71 Ha. Proyeksi tersebut diharapkan bisa terwujud, menyusul dilakukannya berbagai penanganan lahan kritis baik yang dilakukan oleh pemerintah, swasta, BUMN maupun organisasi masyarakat.

    Kebijakan yang diambil Pemkab Bandung dalam menangani lahan kritis, dilakukan melalui reboisasi dan rehabilitasi lahan, pemberdayaan lembaga masyarakat desa hutan (LMDH) dengan pengembangan tanaman keras produktif, disamping dilakukan pemantauan kerusakan lahan serta penyediaan lahan konservasi “Leuweung Sabilulungan “.

    Catatan menunjukan, tahun 2011 Pemkab Bandung melakukan reboisasi diatas lahan seluas 6.155 Ha. Langkah ini memunculkan penghargaan fari Provinsi Jawa Barat sebagai juara III. Berlanjut tahun 2012, cara yang sama dilakukan pula diatas lahan 16.300 Ha, sehingga pada tahun itu Kabupaten Bandung menduduki juara I tingkat Jawa Barat dalam penanganan lahan kritis.

    Seputar hulu Sungai Citarum yang terletak di Kecamatan Kertasari, dijadikan prioritas penanganan lahan kritis. Bahkan di daerah ini pula, Pemkab Bandung melalui Yayasan Leuweung Sabilulungan menyediakan lahan konservasi untuk ditanami berbagai tanaman keras. Saya ajak masyarakat sekitar untuk ikut menanam tanaman keras di lahan ini, yang nantinya memiliki fungsi ekologis dan ekonomis kata Dadang Naser.

    Kegigihan Dadang Naser untuk menangani lahan kritis di Kertasari, memang cukup berlasan. Karena ditenggarai di daerah hulu sungai Citarum ini, banyak terjadi alih fungsi lahan dari tanaman keras ke sector palawija. Tanaman palawija yang ditanam petani dilereng bukit tidak bisa mengikat tanah, kalau ada hujan besar, tanah menjadi tergerus dan longsor menutupi jalan, kata Dadang. Longsoran tanah juga turut mengotori aliran Sungai Citarum.

    Untuk mengubah kebiasaan tersebut, Pemkab Bandung melalui Yayasan Leuweung Sabilulungan secara periodik memberikan edukasi kepada warga yang ada diseputar hulu Sungai Citarum, tentang pentingnya menangani lahan kritis. Tahun 2011 saya rintis menanam pohon alpukat dan jeruk di daerah itu, ternyata lambat laun warga setempat juga ikut menanam, karena mereka berfikir keuntungan ekonomis dari tanaman ini sangat menggiurkan..tambah Dadang Naser pula.

    Gerakan reboisasi lahan kritis, ternyata tidak cukup hanya disitu. Pemkab Bandung sejak beberapa waktu lalu telah mengajak murid-murid sekolah untuk turut menanam tanaman keras dilingkungan tempat tinggalnya masing-masing. Upaya ini ditujukan pula sebagai langkah pembelajaran bagi para siswa untuk menanamkan kepeduliaan terhadap lingkungan.

     

           
           

    Berita Terkait :

    Komentar
    Comments powered by Disqus