Home - Pemerintah Provinsi Jawa Barat

Kabupaten Cianjur

  • Main Menu
  • Tidak ada polling untuk saat ini.

    Kabupaten Cianjur

    Profil Daerah

           
     

    Kabupaten Cianjur

    Alamat
    Jl.Siti Jenab No.31 Cianjur

    Nomor Telepon
    0263-261890

    Website
    http://cianjurkab.go.id/

     
     

    Selayang Pandang

     
     

    Cianjur dikenal dan lekat dengan pameo ngaos, mamaos dan maenpo. Ngaos adalah tradisi mengaji sebagai salah satu pencerminan kegiatan keagamaan. Mamaos adalah pencerminan kehidupan budaya daerah dimana seni mamaos Tembang Sunda Cianjuran berbibit buit ( berasal )dari tatar Cianjur. Sedangkan maenpo adalah seni beladiri tempo dulu asli Cianjur yang sekarang lebih dikenal dengan seni beladiri Pencak Silat.

    Luas wilayah Kabupaten Cianjur 350.148 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2007 sebanyak 2.138.465 jiwa.

    Lapangan pekerjaan utama penduduk Kabupaten Cianjur di sektor pertanian yaitu sekitar 52,00 %. Sektor lainnya yang cukup banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan yaitu sekitar 23,00 %. Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar terhadap PDRB Kabupaten Cianjur yaitu sekitar 42,80 % disusul sektor perdagangan sekitar 24,62%.

    Secara administratif Pemerintah kabupaten Cianjur terbagi dalam 32 Kecamatan, dengan batas-batas administratif :

    • Sebelah utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Purwakarta.
    • Sebelah barat berbatasan dengan wilayah Kabupaten Sukabumi.
    • Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
    • Sebelah Timur berbatasan dengan wilayah Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.
     
     

    Secara geografis , Kabupaten Cianjur dapat dibedakan dalam tiga wilayah pembangunan yakni wilayah utara, tengah dan wilayah selatan.

     Wilayah Utara

    Meliputi 16 Kecamatan : Cianjur, Cilaku, Warungkondang,Gekbrong, Cibeber, Karangtengah, Sukaluyu, Ciranjang, Bojongpicung, Mande, Cikalongkulon, Cugenang , Sukaresmi, Cipanas, Pacet dan Haurwangi.

     Wilayah Tengah

    Meliputi 9 Kecamatan : Sukanagara, Takokak, Campaka, Campaka Mulya, Tanggeung, Pagelaran, Leles, Cijati dan Kadupandak.

     Wilayah Selatan

    Meliputi 7 Kecamatan : Cibinong, Agrabinta, Sindangbarang, Cidaun , Naringgul, Cikadu dan Pasirkuda.

    Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

    Sebagai daerah agraris yang pembangunananya bertumpu pada sektor pertanian, kabupaten Cianjur merupakan salah satu daerah swa-sembada padi. Produksi padi pertahun sekitar 625.000 ton dan dari jumlah sebesar itu telah dikurangi kebutuhan konsumsi lokal dan benih, masih memperoleh surplus padi sekitar 40 %. Produksi pertanian padi terdapat hampir di seluruh wilayah Cianjur.

    Kecuali di Kecamatan Pacet dan Sukanagara. Di kedua Kecamatan ini, didominasi oleh tanaman sayuran dan tanaman hias. Dari wilayah ini pula setiap hari belasan ton sayur mayur dipasok ke Jabotabek.

    Pengembangan usaha perikanan air tawar dan laut di Kabupaten Cianjur cukup potensial. Baik untuk usaha berskala kecil maupun besar. Beberapa faktor pendukungnya adalah : jumlah penduduk yang relatif besar serta tersedianya lahan budi daya ikan air tawar dan ikan laut. Usaha pertambakan ikan dan penagkapan ikan laut memiliki peluang besar di wilayah Cianjur selatan, khususnya di sepanjang pantai Cidaun hingga Agrabinta. Di wilayah ini, mulai dirintis dan di kembangkan pertambakan budi daya udang. Sedangkan budi daya ikan tawar terbuka luas di cianjur utara dan cianjur tengah. Di wilayah ini terdapat budi daya ikan hias, pembenihan ikan, mina padi, kolam air deras dan keramba serta usaha jaring terapung di danau Cirata, yang sekaligus merupakan salah satu obyek wisata yang mulai berkembang.

    Sementara itu , potensi perkebunan di Kabupaten Cianjur cukup besar dimana sekitar 19,4 % dari seluruh luas merupakan areal perkebunan . Selama in dikelola oleh Perkebunan Besar Negara (PBN) seluas 10.709 hektar, Perkebunan Besar Swasta (PBS) sekitar 20.174 hektar dan Perkebunan Rakyat (PR) seluas 37.167 hektar. Peningkatan produksi perkebunan, terutama komoditi teh cukup baik. Produktivitas teh rakyat mampu mencapai antara 1.400 - 1.500 kg teh kering per hektar. Sedangkan yang di kelola oleh perkebunan besar rata-rata mencapai di atas 2.000 kg per hektar.

     
     

    Sejarah

     
     

     Tiga abad silam merupakan saat bersejarah bagi Cianjur. Karena berdasarkan sumber - sumber tertulis , sejak tahun 1614 daerah Gunung Gede dan Gunung Pangrango ada di bawah Kesultanan Mataram. Tersebutlah sekitar tanggal 12 Juli 1677, Raden Wiratanu putra R.A. Wangsa Goparana Dalem Sagara Herang mengemban tugas untuk mempertahankan daerah Cimapag dari kekuasaan kolonial Belanda yang mulai menanamkan kuku-kunya di tanah nusantara.Upaya Wiratanu untuk mempertahankan daerah ini juga erat kaitannya dengan desakan Belanda / VOC saat itu yang ingin mencoba menjalin kerjasama dengan Sultan Mataram Amangkurat I.

    Namun sikap patriotik Amangkurat I yang tidak mau bekerjasama dengan Belanda / VOC mengakibatkan ia harus rela meninggalkan keraton tanggal 12 Juli 1677. Kejadian ini memberi arti bahwa setelah itu Mataram terlepas dari wilayah kekuasaannya.

    Pada pertengahan abad ke 17 ada perpindahan rakyat dari Sagara Herang yang mencari tempat baru di pinggir sungai untuk bertani dan bermukim. Babakan atau kampoung mereka dinamakan menurut menurut nama sungai dimana pemukiman itu berada. Seiring dengan itu Raden Djajasasana putra Aria Wangsa Goparana dari Talaga keturunan Sunan Talaga, terpaksa meninggalkan Talaga karena masuk Agama Islam, sedangkan para Sunan Talaga waktu itu masih kuat memeluk agama Hindu.

    Sebagaimana daerah beriklim tropis, maka di wilayah Cianjur utara tumbuh subur tanaman sayuran, teh dan tanaman hias. Di wilayah Cianjur Tengah tumbuh dengan baik tanaman padi, kelapa dan buah-buahan. Sedangkan di wilayah Cianjur Selatan tumbuh tanaman palawija, perkebunan teh, karet, aren, cokelat, kelapa serta tanaman buah-buahan. Potensi lain di wilayah Cianjur Selatan antara lain obyek wisata pantai yang masih alami dan menantang investasi.

    Aria Wangsa Goparana kemudian mendirikan Nagari Sagara Herang dan menyebarkan Agama Islam ke daerah sekitarnya. Sementara itu Cikundul yang sebelumnya hanyalah merupakan sub nagari menjadi Ibu Nagari tempat pemukiman rakyat Djajasasana. Beberapa tahun sebelum tahun 1680 sub nagari tempat Raden Djajasasana disebut Cianjur (Tsitsanjoer-Tjiandjoer).

    Dalem / Bupati Cianjur dari masa ke masa

    1. R.A. Wira Tanu I (1677-1691)
    2. R.A. Wira Tanu II (1691-1707)
    3. R.A. Wira Tanu III (1707-1727)
    4. R.A. Wira Tanu Datar IV (1927-1761)
    5. R.A. Wira Tanu Datar V (1761-1776)
    6. R.A. Wira Tanu Datar VI (1776-1813)
    7. R.A.A. Prawiradiredja I (1813-1833)
    8. R. Tumenggung Wiranagara (1833-1834)
    9. R.A.A. Kusumahningrat (Dalem Pancaniti) (1834-1862)
    10. R.A.A. Prawiradiredja II (1862-1910)
    11. R. Demang Nata Kusumah (1910-1912)
    12. R.A.A. Wiaratanatakusumah (1912-1920)
    13. R.A.A. Suriadiningrat (1920-1932)
    14. R. Sunarya (1932-1934)
    15. R.A.A. Suria Nata Atmadja (1934-1943)
    16. R. Adiwikarta (1943-1945)
    17. R. Yasin Partadiredja (1945-1945)
    18. R. Iyok Mohamad Sirodj (1945-1946)
    19. R. Abas Wilagasomantri (1946-1948)
    20. R. Ateng Sanusi Natawiyoga (1948-1950)
    21. R. Ahmad Suriadikusumah (1950-1952)
    22. R. Akhyad Penna (1952-1956)
    23. R. Holland Sukmadiningrat (1956-1957)
    24. R. Muryani Nataatmadja (1957-1959)
    25. R. Asep Adung Purawidjaja (1959-1966)
    26. Letkol R. Rakhmat (1966-1966)
    27. Letkol Sarmada (1966-1969)
    28. R. Gadjali Gandawidura (1969-1970)
    29. Drs. H. Ahmad Endang (1970-1978)
    30. Ir. H. Adjat Sudrajat Sudirahdja (1978-1983)
    31. Ir. H. Arifin Yoesoef (1983-1988)
    32. Drs. H. Eddi Soekardi (1988-1996)
    33. Drs. H. Harkat Handiamihardja (1996-2001)
    34. Ir. H. Wasidi Swastomo, Msi (2001-2006)
    35. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2006-2011)
    36. Drs. H. Tjetjep Muchtar Soleh, MM (2011-2016)

    Wakil Bupati Cianjur dari masa ke masa
    1. Drs. H.A. Zaenal Asyikin (1996 - 2001)
    2. H. Dadang Rachmat, S.E., M.Si (2001 - 2006)
    3. DR. H. Dadang Sufianto, Drs, M.M (2006 - 2011)
    4. Dr. H. Suranto. M.M (2011 - 2016)
     

     
     

    Visi dan Misi

     
     

    VISI

    CIANJUR LEBIH SEJAHTERA DAN BERAKHLAKUL KARIMAH.

    MISI

    • Meningkatkan Ketersedian dan Keterjangkauan Pelayanan Pendidikan yang Bermutu.
    • Meningkatkan Ketersedian dan Keterjangkauan Pelayanan Kesehatan yang Bermutu.
    • Meningkatkan Daya Beli Masyarakat.
    • Memantapkan Pelaksanaan Repormasi Birokrasi.
    • Aktualiasai Nilai-Nilai Akhlakul Karimah dalam kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara.

     

     
     

    Lambang & Moto

     
     

    Makna Lambang

    • Perisai, melambangkan ketangguhan fisik dan mental.
    • Warna dasar kuning emas, melambangkan kehidupan yang abadi.
    • Gunung berwarna hijau, melambangkan kesuburan.
    • Hamparan warna biru, menunjukkan air yang melambangkan kesetiaan dan ketaatan.
    • Dua tangkai padi bersilang berwarna, masing - masing berbutir 17 melambangkan ketentraman dan dinamika kehidupan masyarakat yang dijiwai semangat Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
    • Simpul pita berwarna kuning emas, melambangkan sifat persatuan dan kesatuan.
    • Motto Sugih Mukti, melambangkan kesejahteraan