
PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Dalam rangka pelestarian, pengembangan dan pemanfaatan objek pemajuan kebudayaan di Jawa Barat Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat melalui UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, menggelar Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat Tahun 2026.
Kegiatan yang akan diikuti oleh 27 kabupaten/kota di Jawa Barat, dengan mengangkat cerita/ sejarah/ mitos/ legenda, akan dilaksanakan di Teater Tertutup Taman Budaya mulai bulan April sampai dengan bulan November 2026.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan didampingi Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat Ary Heriyanto menjelaskan, pergelaran pertama dimulai tanggal 7 April 2026 dari Kota Bandung, yang akan menampilkan pagelaran drama tari "Nyi Sumur Bandung".
Selama bulan April 2026, ada 3 Festival Kreasi Pergelaran Seni Jawa Barat, tanggal 16 April 2026 penampilan dari Kota Cimahi. Tanggal 30 April 2026 penampilan dari Kabupaten Subang.
Dalam sinopsisnya, Drama Tari Nyi Sumur Bandung bermula dari tanah basah oleh doa, lahirlah kisah seorang putri yang memeluk amanah suci, ayahandanya menjaga pusaka leluhur, menjaga napas bumi.
Namun dibalik cahaya, bayang iri dan fitnah menari. Ia diasingkan dari istana, tapi tidak dari kasih semesta. Dalam kesunyian hutan dan tangis yang menjadi air, ia menemukan dirinya kembali, perempuan yang lentur seperti bambu, tapi kuat seperti batu karang yang menahan arus.
Dari Luka tumbuhlah kekuatan, dari air mata, memancar mata air kehidupan. Nyai Sumur Bandung bukan sekedar nama, ia adalah “sumur” yang tak pernah kering sumber air bagi jiwa-jiwa yang haus akan kesetiaan dan cermin bagi kebijaksanaan perempuan Sunda yang menuntun bumi menuju keseimbangan.
Alur cerita singkat, Nyai Sumur Bandung adalah putri bungsu Prabu Kidang Pananjung yang diwarisi pusaka suci sebagai lambang keseimbangan alam. Warisan ini memicu iri hati pada kedua kakaknya, Rangga Wayang dan Langen Sari, yang kemudian menyerang adiknya dan berhasil merebut pusaka tersebut.
Tragisnya, setelah berhasil merebut, kedua kakak itu justru saling bertarung memperebutkan pusaka yang telah mereka dapatkan, dan keduanya tewas karena energi pusaka yang saling bentrok (Revisi cerita).
Dalam kesedihan dan untuk menenangkan energi pusaka, Nyai Sumur Bandung memilih mengasingkan diri ke hutan Ujungberung. Di sana, ia dinikahi oleh Raja Munding Keling , tetapi fitnah dari permaisuri tua, Nimbang dan Waringin, yang menukar bayinya dengan monyet hitam, membuat Raja Munding Keling marah dan mengusirnya.
Beberapa tahun kemudian, kerajaan dilanda kekeringan dan wabah sebagai hukuman atas ketidakadilan. Raja yang menyesal mencari dan meminta ampun kepada Nyai Sumur Bandung, dan dari tangannya mengalir air suci yang memulihkan kehidupan bumi.
Nyai memilih tetap di alam, dan mata air dari tempat tapanya kini dikenal sebagai "Sumur Bandung," lambang kesucian dan keteguhan perempuan Sunda. (Parno)