Guru Besar ITB Tawarkan Pengendalian Serangga Oleh Hayati

Diterbitkan

Minggu, 20 November 2022

Penulis

Rep Pun

|

Rep Pun

176 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Serangga sesungguhnya adalah makhluk paling dominan di dunia. Keberadaannya saat ini diperkirakan mencapai 10 kuintiliun (Qi).

Hal ini disampaikan Profesor Tjandra Anggraeni, saat menyampaikan orasi ilmiah guru besarnya berjudul 'Pengendalian Hayati Serangga Hama' dalam Forum Guru Besar (FGB) ITB yang dilaksanakan di Aula Barat, Sabtu (19/11/2022).

Serangga dianggap sebagai hama sejak awal abad ke-20 sehingga mendorong ditemukannya teknologi pemusnah hama atau DDT pada tahun 1944. Namun pda 1960 Rachel Carlson mengungkapkan bahaya penggunaan DDT melalui bukunya yang berjudul “Silent Spring”.

“Terbitnya buku ini terus menjadi perhatian manusia sampai dilarangnya penggunaan DDT beberapa tahun kemudian,” ujarnya.

Orasi ilmiah Prof. Tjandra berdasarkan hasil penelitiannya, yaitu pengaruh agen hayati terhadap sistem imun serangga, dan aspek fisiologi serangga. Dalam penelitian ini, Profesor Tjandra menggunakan agen hayati jamur. Hasilnya, serangga bisa mati karena kerusakan bagian dalam tubuh akibat jamur invasif, atau deposit toksin jamur, sehingga serangga mati keracunan.

Menurut Tjandra, pengendalian serangga hayati diperlukan seiring dengan munculnya masalah-masalah baru dalam pengendalian serangga. Di antaranya resistensi serangga hama, ledakan hama sekunder, dan polusi yang berujung pada penyakit bagi manusia.

Pengendailan hayati merupakan bagian dari pengendalian hama terpadu (PHT), yang menjadi salah satu solusi yang ditawarkan saat ini. Selain pengendalian hayati, dalam PHT terdapat pengendalian kultural, fisik, dan pengendalian secara kimia dengan insektisida dosis ringan, jika hasil yang diinginkan belum tercapai. 

“Serangga akan terus berevolusi sehingga saat ini terdapat setidaknya 30 ordo serangga, dan akan terus bertambah. Jumlah jenis serangga dalam setiap ordo juga bervariasi,” katanya.

Tjandra menegaskan pentingnya PHT, pemahaman terkait sistem imun serangga, serta kemungkinan terjadinya variasi akibat beragamnya jenis agen hayati dan serangga yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Tjandra berharap terhadap kebijaksanaan manusia dalam melakukan pengendalian hama, agar menggunakan prinsip PHT. (prn/rdp*)

Editor: rdp

Berita Terkait