Kinerja Industri Jasa Keuangan di Jabar Terjaga

Diterbitkan

Jumat, 5 Juni 2026

Penulis

Rep No

|

Rep No

331 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG -  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Barat mencatat bahwa kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Jawa Barat hingga Triwulan I 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang baik di tengah dinamika ekonomi global dan nasional.

Sektor Perbankan di Jawa Barat menunjukkan pertumbuhan positif (year on year) tercermin dari beberapa indikator, antara lain Total Aset, Dana Pihak Ketiga (DPK) dan Kredit, dengan tingkat pertumbuhan masing-masing pada posisi Maret 2026 sebesar 5,93 persen 9,17 persen; dan 1,39 persen.

Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman mengatakan bahwa sektor jasa keuangan di Jawa Barat masih mampu menjaga stabilitas dan tumbuh secara positif, meskipun tekanan ekonomi global dan nasional cukup tinggi.

"Kondisi ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap kuat," ucap Darwisman, Rabu (3/6/2026).

Tingkat risiko kredit yang direfleksikan oleh rasio Non-Performing Loan (NPL) relatif terjaga dalam batas threshold dengan nilai 3,44 persen.

"Fungsi intermediasi yang tercermin dari Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 135,27 persen menunjukan bahwa porsi kredit yang disalurkan kepada masyarakat yang lebih besar dibandingkan Dana Pihak Ketiga yang dihimpun," paparya.

Pada Maret 2026, penyaluran kredit berdasarkan Lokasi Proyek di Jawa Barat mencapai Rp1.047 triliun, tumbuh 1,39 persen YoY. Kontribusi penyaluran kredit di Jawa Barat (market share) mencapai 11,85 persen terhadap total kredit nasional dan merupakan provinsi dengan market share kredit terbesar kedua setelah DKI Jakarta. Rasio NPL gross perbankan di Jabar sebesar 3,44 persen.

Berdasarkan sektor ekonomi, penyaluran kredit (berdasarkan lokasi proyek bukan bank) terbesar dan juga memiliki pertumbuhan kredit dengan risiko yang tergolong rendah antara lain Rumah Tangga sebesar Rp438,16 Triliun (tumbuh 4,82%) YoY, dengan NPL gross 3,18%) dan Industri Pengolahan sebesar Rp170,72 Triliun (tumbuh 6,50 % YoY dengan NPL gross 2,62%), Real Estate sebesar Rp38,31 triliun (tumbuh 12,79% YoY dengan NPL gross sebesar 0,75%), Bukan Lapangan Usaha Lainnya sebesar Rp43,24 Triliun (tumbuh 5,42% dengan NPL gross sebesar 1,64%), serta Pengangkutan dan Pergudangan tumbuh sebesar Rp30,54 Triliun (tumbuh 0,62% YoY dengan NPL gross 0,62%).

"Perlambatan penyaluran kredit disebabkan oleh penurunan kredit pada sejumlah sektor, yaitu sektor Perdagangan Besar dan Eceran (Rp4,30 triliun), Konstruksi (Rp2,09 triliun), dan Pertanian Kehutanan Perikanan (Rp3,67 triliun) karena adanya kenaikan risiko kredit pada sektor-sektor unggulan tersebut," jelas Darwisman.

Menurutnya, OJK Jawa Barat berupaya untuk tetap mendorong perbankan menyalurkan kredit ke sektor-sektor produktif dengan risiko yang terukur, sehingga pertumbuhan ekonomi daerah dapat terus berlanjut secara berkesinambungan.

(Rep no/bhf)

Editor: Bayu

Berita Terkait