PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung menghadapi tantangan pengendalian inflasi seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang datang dalam beberapa bulan terakhir, yang berdampak pada naiknya permintaan bahan pangan di Kota Bandung, Kamis (18/6/2026).
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, lonjakan wisatawan sejak akhir 2025 hingga pertengahan 2026 membawa dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor pariwisata, kuliner, dan UMKM, namun turut mendorong peningkatan permintaan bahan pangan.
"Bandung sejak Desember sampai sekarang jumlah wisatawannya meningkat berlipat-lipat. Alhamdulillah ini menunjukkan ekonomi kita bergerak. Tetapi konsekuensinya adalah permintaan bahan pangan juga meningkat," ujar Farhan di Balai Kota Bandung.
Ia menjelaskan, Kota Bandung sebagai kota jasa dan perdagangan sangat bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain sehingga keseimbangan suplai dan permintaan menjadi faktor utama stabilitas harga.
Peningkatan konsumsi dari sektor hotel, restoran, dan pusat kuliner menyebabkan tekanan pada harga berbagai komoditas di pasar yang juga digunakan oleh masyarakat umum.
"Restoran membeli di pasar yang sama dengan masyarakat. Ketika permintaan meningkat, harga otomatis ikut naik. Dampaknya dirasakan oleh seluruh warga Kota Bandung," katanya.
Farhan menyebut pengendalian inflasi di Kota Bandung difokuskan pada kelancaran distribusi pangan melalui dua pasar induk utama, yakni Gedebage dan Caringin, yang memasok komoditas dari sedikitnya 16 provinsi di Indonesia.
Selain itu, Bulog turut berperan dalam menjaga stabilitas pasokan beras, minyak goreng, gula, dan terigu di daerah tersebut.
Ia menegaskan bahwa meskipun distribusi masih berjalan baik, pemerintah tetap memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak termasuk pemerintah pusat dan daerah pemasok untuk menjaga kestabilan harga.
Farhan juga mengingatkan bahwa perubahan iklim menjadi tantangan tambahan dalam menjaga ketersediaan pangan, terutama pada komoditas sayuran yang sangat sensitif terhadap cuaca.
Menurutnya, stok beras masih relatif aman karena Bulog memiliki cadangan yang cukup, termasuk melalui program Stabilitas Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Ia menjelaskan terdapat tiga kategori beras di pasaran, yakni SPHP, premium, dan beras khusus, dengan tekanan permintaan terbesar terjadi pada beras premium.
"Secara statistik beras tersedia. Yang sering bermasalah itu beras premium karena permintaannya paling tinggi," ujarnya.
Farhan juga menyoroti potensi spekulasi harga melalui praktik penimbunan yang dapat mengganggu stabilitas pasar.
Ia menegaskan pengawasan terhadap praktik tersebut akan terus diperkuat untuk melindungi masyarakat dari kenaikan harga yang tidak wajar.
Pemkot Bandung berharap keseimbangan antara pertumbuhan sektor pariwisata dan stabilitas pangan dapat terus terjaga melalui kolaborasi semua pihak.
(Diskominfo Kota Bandung/bhf)