
PORTALJABAR, KAB. BOGOR - Guna mendorong peningkatan kesadaran terhadap kesiapsiagaan masyarakat serta mitigasi bencana, Kabupaten Bogor jadi lokasi khusus (lokus) Rencana Detail Pelaksanaan Program KUAT (Komunitas Perkotaan Untuk Aksi Tangguh), Catholic Relief Service (CRS) bersama Miyamoto Internasional dan Wahana Vis.
USAID, Catholic Relief Service (CRS) bersama Miyamoto Internasional dan Wahana Visi gandeng Pemerintah Daerah Kabupaten (Pemdakab) Bogor melalui Lokakarya Pengembangan Rencana Detail Implementasi Program Komunitas Perkotaan Untuk Aksi Tangguh (KUAT), yang berlangsung di Ballroom Hotel Lorin Sentul Babakan Madang, Rabu (13/9/2023).
Berdasarkan hasil kajian risiko bencana yang dilakukan oleh BPBD Kabupaten Bogor, Kabupaten Bogor memiliki 9 ancaman bencana dengan rincian, 6 ancaman berada di kelas risiko tinggi, yaitu gempa bumi, banjir, banjir bandang, cuaca ekstrim, kekeringan, dan tanah longsor.
Ancaman dengan kelas risiko sedang, yaitu kebakaran hutan dan lahan dan letusan gunung api terutama Gunung Salak, serta ancaman dengan kelas risiko rendah yaitu letusan Gunung Gede Pangrango.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Burhanudin menyatakan, pentingnya kolaborasi pentahelix dalam membangun kesiapsiagaan dan tanggap bencana di masyarakat, sebagai salah satu upaya mitigasi agar dampaknya dapat diminimalisir. Seperti korban jiwa, cedera, kerusakan harta benda, dan gangguan sosial ekonomi, dengan meningkatkan ketahanan kesadaran serta kesiapsiagaan rumah tangga dan masyarakat khususnya di wilayah yang rawan bencana.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bogor saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan penghargaan setinggi-tingginya, atas kolaborasi CRS Indonesia, USAID, Miyamoto International, Wahana Visi Indonesia, bersama BPBD Kabupaten Bogor, dan segenap pemangku kepentingan terkait yang telah memilih Kabupaten Bogor sebagai lokus program KUAT bencana,” ungkapnya.
CRS Head Program untuk Program KUAT, Hester Smidth menuturkan, kegiatan ini merupakan salah satu langkah awal yang dijalankan konsorsium KUAT untuk mendukung upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat di wilayah perkotaan dan semi kota yang memiliki risiko bencana tinggi, khususnya di Jakarta, Tangerang, dan KabupatenBogor.
“Selain untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat akan kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat, program KUAT juga dirancang untuk meningkatkan kapasitas dan koordinasi keterlibatan aktor-aktor sektor publik dan swasta dalam upaya pengurangan risiko bencana dan ketahanan di Indonesia”, ungkapnya.
Menurutnya, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat di Kabupaten Bogor, lokus menyasar empat wilayah di Kelurahan Cisarua, Desa Citeko, Kelurahan Pondok Rajeg, dan Kelurahan Nanggewer. Program yang akan dilaksanakan hingga tiga tahun ke depan ini didanai oleh Bureau for Humanitarian Assistance (BHA) USAID.
“Harapannya dengan dilakukannya lokakarya ini, kita dapat menjaring masukan dari para pemangku kepentingan, serta bisa mengintegrasikan rencana kesiapsiagaan bencana dan tanggap darurat semua lembaga pemerintah yang ada di Kabupaten Bogor dengan rencana kerja BPBD”, katanya. (rdp*)