PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan optimistis Bus Rapid Transit (BRT) menghadirkan transportasi publik nyaman dan terintegrasi bagi warga.
Farhan menyampaikan optimisme tersebut di Balai Kota Bandung (14/9/2026), meski pembangunan BRT menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
Menurut Farhan, kritik dan kekhawatiran masyarakat merupakan hal wajar karena BRT membawa perubahan pada sistem transportasi Kota Bandung.
“BRT ini memang pilihan yang harus kita pilih. Dari sejak awal sebelum saya dilantik saya sudah mendapatkan BRT ini dan saya sudah keliling berkali-kali jalur BRT,” ujar Farhan.
Salah satu perhatian masyarakat adalah rencana pembangunan halte di tengah jalan pada sejumlah koridor utama Kota Bandung.
Halte tersebut direncanakan berada di kawasan Cicadas, Jalan Jakarta, Ciroyom, hingga Pasar Baru untuk mendukung akses transportasi publik.
“Memang agak susah membayangkan bahwa di tengah Jalan Cicadas, Jalan Jakarta, sampai wilayah Ciroyom dan Pasar Baru akan ada halte-halte di tengah jalan. Perdebatan tentu tidak pernah berhenti, namun bagaimanapun juga pilihannya tetap dilaksanakan,” katanya.
Farhan menjelaskan, BRT Bandung merupakan program bersama Kementerian Perhubungan dan Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat.
“Kami akan terus menyerap berbagai macam aspirasi dari masyarakat tentang ketidaknyamanan akibat dari BRT ini,” ujarnya.
Koridor BRT tahap awal melayani jalur timur-barat yang menghubungkan sejumlah pusat aktivitas masyarakat di Kota Bandung.
Rute tersebut dimulai dari Kiaracondong menuju Alun-alun Bandung, kemudian berlanjut ke Stasiun Selatan, Kebonjati, Otista, Tegalega, dan kembali menuju koridor timur.
Untuk memudahkan akses warga, Pemkot Bandung menyiapkan sistem feeder yang terintegrasi dengan layanan utama BRT.
Layanan feeder akan memanfaatkan angkutan kota melalui peremajaan armada agar lebih nyaman dan sesuai kebutuhan transportasi modern.
“Feeder ini adalah angkot-angkot yang selama ini kita kenal. Akan ada peremajaan angkot dan mudah-mudahan kita bisa segera mendapatkan kesepakatannya untuk angkot yang baru,” tuturnya.
Pemkot Bandung juga menunggu realisasi angkutan umum menuju Bandara Husein Sastranegara untuk memperkuat konektivitas transportasi publik.
Pembangunan halte di tengah jalan tetap berjalan karena menjadi bagian desain dasar sistem BRT yang telah dirancang.
“Kalau pembangunan halte yang di tengah itu tetap akan berlanjut. Itu bagian dari konsep, saya tidak bisa melawan karena bagaimanapun juga itu bagian dari desain BRT,” ucap Farhan.
Aspek keselamatan tetap menjadi perhatian, termasuk kemungkinan pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) berdasarkan hasil kajian.
“Kalau memang ternyata membahayakan maka saya akan paksakan ada JPO di atas itu. Tapi itu sangat tergantung kepada hasil perhitungan nanti pelaksanaan proyek ini sendiri,” katanya.
Pemkot Bandung juga membuka peluang investasi swasta untuk membangun fasilitas parkir di sekitar koridor BRT bagi pengguna kendaraan pribadi.
Fasilitas tersebut dibutuhkan untuk mendukung perpindahan masyarakat dari kendaraan pribadi menuju transportasi massal yang terintegrasi.
“Kami akan melakukan penawaran terbuka kepada calon investor yang akan membangun fasilitas parkir di titik-titik sekitar koridor BRT,” ujarnya.
Farhan menyebut penyediaan ruang parkir menjadi tantangan di kawasan strategis seperti Dago, Pasar Baru, Stasiun Hall, Asia Afrika, hingga Kiaracondong.
Pengalaman Kota Medan menjadi salah satu alasan Farhan optimistis BRT Bandung dapat memberikan manfaat setelah seluruh sistem berjalan.
“Saya sudah tiga kali ke Kota Medan mencoba BRT-nya. Kelihatannya berhasil. Setelah jadi masyarakat lebih nyaman, walaupun saat pembangunannya memang sangat menantang,” ungkapnya.
Farhan menilai keberhasilan BRT juga membutuhkan dukungan masyarakat dalam beradaptasi dengan sistem transportasi baru.
“Kami sangat terbuka terhadap berbagai masukan dan kritik. Tetapi ini proyek nasional, jadi Kementerian Perhubungan, Dinas Perhubungan Jawa Barat, dan Dinas Perhubungan Kota Bandung harus membahasnya bersama. Tidak mungkin saya membuat keputusan sendiri,” kata Farhan.
Ia berharap BRT menghadirkan transportasi publik yang lebih nyaman, terintegrasi, dan mampu membantu mengurangi kemacetan di Kota Bandung.
“Setelah jadi, harapannya masyarakat akan merasakan manfaatnya. Memang proses pembangunannya menantang, tetapi kita ingin menghadirkan sistem transportasi yang lebih baik untuk masa depan Kota Bandung,” tuturnya.
(Diskominfo Kota Bandung/bhf)