ASRI dan Sibadak, Inovasi Kelurahan Cigondewah Rahayu untuk Lingkungan dan Pelayanan Publik Berbasis Data

Diterbitkan

Kamis, 25 Juni 2026

Penulis

Diskominfo Kota Bandung

|

Diskominfo Kota Bandung

90 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

preview hero banner

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung menghadirkan program ASRI dan Sibadak di Kelurahan Cigondewah Rahayu untuk mengelola sampah serta mempercepat layanan berbasis data (24/6/2026).

Inovasi tersebut diperkenalkan dalam Sonata Talkshow yang diselenggarakan Radio Sonata dengan melibatkan aparatur Kelurahan Cigondewah Rahayu sebagai narasumber.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Cigondewah Rahayu Bunga Anggriani Silalahi menjelaskan, ASRI mengajak warga mengelola sampah rumah tangga sekaligus memperoleh manfaat ekonomi.

Warga mengumpulkan sampah yang telah dipilah kemudian menimbangnya di bank sampah untuk dijual dan dicairkan menjadi dana.

“Konsepnya seperti arisan. Kalau arisan biasa yang dikumpulkan adalah uang, sedangkan Asri yang dikumpulkan adalah sampah. Sampah dikumpulkan, ditimbang di bank sampah, kemudian dijual dan hasilnya bisa dicairkan,” ujar Bunga.

Program yang telah berjalan sekitar satu bulan tersebut mendorong kebiasaan memilah sampah sejak rumah sehingga volume sampah berpotensi berkurang.

Kelurahan juga menyiapkan buku saku sebagai panduan praktis agar warga memahami tata cara pemilahan dan pengelolaan sampah.

“Harapannya warga bisa lebih peka terhadap sampah, mulai dari memilah hingga mengelolanya dengan baik,” katanya.

Sebanyak 9.000 warga yang tersebar di delapan rukun warga menjadi sasaran utama program pengelolaan lingkungan berkelanjutan tersebut.

Di sektor pelayanan publik, Kelurahan Cigondewah Rahayu mengembangkan Sibadak atau Sistem Bank Data Kelurahan untuk menghimpun berbagai data dalam satu sistem.

Sekretaris Kelurahan Cigondewah Rahayu Lisma Apriliani mengatakan, pengumpulan data sebelumnya membutuhkan waktu karena dilakukan berulang ketika terdapat permintaan informasi.

“Ketika ada permohonan data, kami harus kembali mendorong kader untuk mengisi data. Itu membutuhkan waktu, sementara kader juga memiliki banyak tugas lain, seperti Posyandu, PKK, RT/RW, bahkan ada yang bekerja,” jelasnya.

Sibadak mengintegrasikan data yang sebelumnya tersebar sehingga kebutuhan informasi untuk pelayanan publik dapat dipenuhi lebih cepat.

“Bagaimana caranya data-data yang tersebar ini bisa ada dalam satu wadah, supaya memudahkan dan mempercepat layanan, termasuk pemenuhan kebutuhan data ke OPD maupun wali data,” ujarnya.

Pada tahap awal, sistem tersebut akan memuat 30 data dasar sebagai fondasi pengembangan layanan berbasis data.

Masyarakat nantinya dapat mengakses informasi melalui dashboard sehingga berbagai keputusan dan layanan lebih terukur berdasarkan data terkini.

“Sibadak nantinya akan memasukkan data terbaru secara cepat, dan masyarakat juga bisa melihat melalui dashboard yang tersedia. Harapannya semua bisa bergerak berdasarkan data,” kata Lisma.

Pengembangan Sibadak akan dilakukan bertahap dengan perluasan implementasi ke kelurahan lain sebagai lokasi percontohan Kecamatan Bandung Kulon.

Dalam jangka panjang, data yang dikelola melalui Sibadak direncanakan terintegrasi dengan sistem data Pemerintah Kota Bandung.

(Diskominfo Kota Bandung/bhf)

Editor: Humas Jabar

Berita Terkait