CITARUM HARUM, Sektor 6 Oxbow Bojongsoang Mampu Olah Sampah Tanpa Sisa

Diterbitkan

Jumat, 31 Mei 2024

Penulis

Rep Teguh

|

Rep Teguh

515 kali

Berita ini dilihat

1 kali

Berita ini dibagikan

PORTALJABAR, KAB. BANDUNG -   Sungai Citarum yang dahulu dikenal sebagai tempat sampah terbesar dan terpanjang di Jawa Barat kini tidak lagi. Citarum yang cemar, kini semakin bersih. 

Banyak pihak yang kini perduli terhadap Sungai Citarum terus bergerak memulihkan kondisi sungai dan kualitas airnya, dengan membebaskannya dari sampah.

Upaya terus menerus untuk membersihkan Citarum tak kendor dan Pemda Provinsi Jabar turun tangan melalui program Citarum Harum dengan pendekatan Pentahelix.

Penanganan sampah dan limbah di Citarum menjadi salah satu dari 12 rencana aksi dalam program Citarum Harum, yang dimulai tahun 2018. 

Progresnya, Satgas Citarum  berhasil menangani air limbah domestik, yang mana pada tahun 2021 tertangani limbah domestik dari 135.000 kepala keluarga (KK).

Akselerasi penanganan air limbah domestik ini terus dilakukan, dengan target 648.603 KK pada tahun 2025.

Satgas Citarum pun telah mengurangi sampah dari sumber yang dibuang ke Citarum sebanyak 2.899,51 ton per  hari dari target 3.177,39 ton per hari pada 2021. 

Sedangkan pada 2025, ditargetkan bisa mengurangi sampah dari sumbernya sebanyak 6.636,06 ton per hari.

Begitu pula dengan penanganan limbah industri. Satgas Citarum telah membina 1.133 industri dari target 1.170 industri dan menginventarisasi 180 industri dari target 350 industri.

Ditargetkan pada 2025, sebanyak  1.813 industri dibina dan 1.043 industri dinventarisasi.

Sungai yang memiliki panjang 270 kilometer itu menjadi sumber kehidupan bagi 18 juta warga di 13 kabupaten/kota di Jabar yang dilintasi DAS. Sungai ini juga vital bagi kemakmuran 682.227 hektare lahan di 1.454 desa.

Saking panjangnya,  maka perlu membagi kawasan panjang sungai dalam beberapa titik operasi. 

Terdapat 23 titik operasi atau teritorial dengan karakteristik permasalahan yang agak berbeda. 

Penanganan di tiap sektor bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi, dengan menempatkan perwira berpangkat kolonel. 

Adapun penanganan di bagian hulu berhadapan dengan masalah alih fungsi lahan, di tengah hingga hilir banyak kasus terkait sampah dan limbah.

Sebagaimana di Sektor 6 Oxbow Bojongsoang, Kabupaten Bandung, masalah utama yang dihadapi adalah sampah. Sektor ini dipimpin Kolonel Infantri Yanto Kusno Hendarto.

“Kami prajurit bersama dengan masyarakat sekitar bekerja sama di sini mengolah sampah hingga tanpa sisa atau zero waste. Sampah kami ubah menjadi produk yang bermanfaat,” jelas Yanto di Kabupaten Bandung, Kamis (30/5/2024).

Dalam sehari, mereka mampu mengolah maksimal 7 ton sampah yang diambil dari aliran Sungai Citarum yang menjadi tanggung jawab Sektor 6. 


Jadi sejumlah produk

Sampah-sampah itu diolah menjadi sejumlah produk, seperti paving block, kursi dan meja, pupuk kompos, dan lainnya.

Di Sektor 6  terdapat pula insenerator, mesin gibrik (pemilah sampah) dan mesin press untuk membuat _paving block_. Ada juga alat pemanas khusus untuk mengolah sampah plastik.

Mesin gibrik akan secara otomatis memilah sampah organik dan sampah plastik atau anorganik. 

Sampah organik kemudian dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk kompos atau menjadi pakan magot (sejenis belatung). 

Sementara sampah anorganik akan dibakar melalui insenerator yang mesinnya berada persis di sebelah mesin gibrik.

Namun sampah anorganik sebelum dibakar habis dipilah lagi. Sampah plastik akan dipisah untuk didaur ulang menjadi papan plastik sebagai pengganti papan kayu. 

Hasil pembakaran sampah dari insenerator atau residu pun kembali dimanfaatkan. Berbentuk debu, kemudian akan dicampur dengan pasir dan semen dengan perbandingan tertentu.  Hasil akhirnya adalah batako atau paving block 

“Jika nanti kami sudah mendapatkan alat baru, MOTAH (mesin pengolah runtah), kapasitas sampah yang diolah bisa dua kali lipat. Akan lebih banyak sampah yang ditangani di sektor kami,” jelasnya.

Sektor 6 Oxbow Bojongsoang juga melakukan budidaya magot. 

Magot tak hanya efektif mengurai sampah organik, tetapi juga menghasilkan produk sampingan berupa pupa yang dapat dimanfaatkan dalam industri pakan ternak. 


Target Mutu Air Kelas II

Dengan pengolahan zero waste, ini akan mendukung ultimate goal sebagai indikator dan target keberhasilan utama dari pelaksanaan rencana aksi PPK DAS Citarum, yakni Mutu Air Kelas II atau setara dengan nilai IKA sebesar 60 poin yang ditargetkan dapat tercapai pada akhir tahun 2025.

Mutu air kelas II memungkinan air tersebut bisa digunakan untuk prasarana atau sarana rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, mengairi pertanaman atau peruntukan lain yang mensyaratkan mutu air yang sama.

Kondisi awal Sungai Citarum pada 2018 adalah cemar berat, setara IKA 33,43 poin. Pada akhir 2021, kondisinya mengalami perbaikan kualitas mencapai 50,13 poin atau cemar ringan. 

Pemdaprov Jabar dan Satgas Citarum terus berupaya agar IKA Sungai Citarum sebesar 9,87 poin lagi bisa tercapai dalam waktu dekat.

Editor: Admin

Berita Terkait