Di Balik Sirene Merah, Kisah Pengabdian Petugas Damkar dan Penyelamatan Kota Bandung

Diterbitkan

Jumat, 23 Oktober 2026

Penulis

Diskominfo Kota Bandung

|

Diskominfo Kota Bandung

70 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG -  Pekerjaan petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Diskarmatan) Kota Bandung bukan sekadar memadamkan api. Di balik sirene yang meraung, ada rutinitas panjang, keterampilan yang terus diasah, risiko yang harus dihadapi, serta keluarga yang menanti mereka pulang dengan selamat.

Tidak ada yang benar-benar mengetahui kejadian apa yang akan dihadapi setiap harinya. Laporan darurat bisa datang ketika petugas sedang berlatih, memeriksa kendaraan, beristirahat, atau menjalankan aktivitas rutin lainnya. Kebakaran, hewan yang membutuhkan pertolongan, hingga warga yang memerlukan evakuasi dapat membuat mereka harus segera bergerak.

Di Markas Komando (Mako) Diskarmatan Kota Bandung, Jalan Sukabumi, kesiapsiagaan dibangun sejak awal hari melalui pemeriksaan, latihan, dan kedisiplinan yang terus dijaga.

Pukul 07.30 WIB menjadi salah satu penanda dimulainya aktivitas petugas. Setelah mengikuti apel gabungan, personel menjalani pembinaan fisik, kemudian memastikan kendaraan dan peralatan dalam kondisi siap digunakan.

Bagi Sendi Saputra, petugas penyelamatan Diskarmatan Kota Bandung yang telah bertugas sejak 2017, pemeriksaan tersebut merupakan bagian penting dari pekerjaan yang tidak bisa ditawar.

Kendaraan diperiksa mulai dari oli mesin, oli rem, hingga air radiator. Sementara itu, peralatan penyelamatan seperti gergaji mesin, pompa, alat derek, dan perangkat khusus lainnya harus dipastikan berfungsi dengan baik.

Salah satu peralatan yang mendapat perhatian khusus adalah combination tool, perangkat multifungsi yang digunakan dalam situasi tertentu untuk membantu proses penyelamatan. Karena perannya penting dan pengadaannya tidak mudah, kondisi alat tersebut harus dijaga dengan cermat.

Bagi Sendi dan rekan-rekannya, kesiapan peralatan sangat menentukan keberhasilan penanganan di lokasi kejadian. Dalam situasi darurat, petugas tidak memiliki banyak waktu untuk memperbaiki perlengkapan yang luput diperiksa sejak awal.

Tugas Sendi juga tidak terbatas pada penanganan kebakaran. Tim penyelamatan menangani berbagai kejadian nonkebakaran, mulai dari mengevakuasi hewan yang masuk ke rumah atau sumur, membantu warga yang kesulitan melepas cincin, hingga menangani kecelakaan dan situasi darurat lainnya.

Keterampilan yang dibutuhkan pun beragam. Petugas penyelamatan harus siap menghadapi medan dengan perbedaan ketinggian maupun kedalaman.

Sendi, misalnya, memiliki sertifikasi rescue diver atau penyelam penyelamatan. Kemampuan tersebut membutuhkan penguasaan teori, teknik penyelaman, dan prosedur keselamatan yang tidak bisa dipelajari secara instan.

Di antara beragam keterampilan itu, menyelam menjadi salah satu yang paling menantang baginya. Prosesnya menuntut pengetahuan teknis dan perhitungan matang, terlebih ketika penyelaman dilakukan untuk mengevakuasi korban.

Namun, bukan keterampilan teknis semata yang membuat Sendi bertahan hampir sembilan tahun di pekerjaan tersebut. Ia mengawali kariernya tanpa ketertarikan khusus terhadap dunia pemadam kebakaran dan penyelamatan.

“Awalnya saya cuma mengikuti kemauan orang tua. Ketika Damkar membuka lowongan, orang tua memberi informasi. Sebetulnya saya tidak suka. Setelah setahun menjalani, mulai senang. Tahun ketiga malah makin senang karena bisa menolong orang,” tuturnya saat ditemui di Mako Diskarmatan Kota Bandung, Kamis (15/10/2026).

Perasaan itu tumbuh seiring bertambahnya pengalaman. Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang yang membutuhkan pertolongan berhasil dievakuasi dengan selamat. Ucapan terima kasih sederhana dari warga pun menjadi penyemangat bagi Sendi dan rekan-rekannya.

Bagi Sendi, doa dan ucapan terima kasih dari masyarakat memiliki arti lebih besar daripada imbalan materi. Ia menegaskan bahwa petugas tidak menerima uang atas pertolongan yang diberikan. Jika ada warga yang hendak memberikan uang, pemberian tersebut akan ditolak.

Di balik kepuasan itu, terdapat pengalaman yang sulit dilupakan. Salah satunya ketika tim harus mengevakuasi seorang anak yang tangannya tertancap pada pagar. Petugas memotong bagian pagar agar anak tersebut dapat dilepaskan, kemudian membawanya ke rumah sakit.

Pengalaman lain datang dari pencarian korban hanyut. Proses seperti ini menunjukkan bahwa tugas penyelamatan tidak selalu selesai ketika petugas tiba di lokasi. Ada rangkaian upaya, koordinasi, dan penanganan yang harus dilakukan secara hati-hati.

Risiko semakin besar ketika kebakaran terjadi di lokasi yang menyimpan bahan berbahaya. Sendi pernah menghadapi kebakaran di gudang yang menyimpan amunisi dan senjata api. Kondisi tersebut menghadirkan ancaman tambahan karena panas berpotensi memicu bahaya yang sulit diprediksi.

Meski demikian, Sendi mengakui bahwa rasa takut tetap ada. Ia tidak menganggap dirinya kebal terhadap risiko. Sebelum berangkat, ia berdoa, bekerja sesuai prosedur, dan mengandalkan keterampilan yang telah dipelajari.

Keluarga juga menjadi bagian penting dari kesiapsiagaannya. Sebelum menuju lokasi kejadian, Sendi berusaha mengabari keluarga agar mereka mengetahui bahwa ia sedang bertugas. Setelah tugas selesai, ia kembali memberi kabar bahwa dirinya telah kembali dengan selamat.

Di tengah risiko dan ketidakpastian, Sendi memegang prinsip yang terus diingatnya.

“Tidak ada pemadam dan penyelamat yang hebat, tapi adanya pemadam dan penyelamat yang terlatih. Jadi, jangan bosan untuk berlatih.”

Peralatan dan Kendaraan Harus Siap

Jika Sendi memastikan peralatan penyelamatan siap digunakan, Maulana Iqbal bertanggung jawab memastikan kendaraan pemadam beroperasi dengan baik. Sebagai operator Regu 2 Pleton 2 Diskarmatan Kota Bandung, ia memeriksa mesin kendaraan dan pompa yang menjadi penentu kelancaran pemadaman.

Iqbal bergabung sebagai relawan pada 2010, mengikuti seleksi tenaga harian lepas pada 2015, dan kini berstatus pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) paruh waktu.

Menurutnya, perawatan kendaraan pemadam didasarkan pada jam kerja mesin, bukan sekadar jarak tempuh. Mesin dan pompa dapat terus bekerja selama operasi pemadaman meskipun kendaraan tidak bergerak.

Tantangan berikutnya muncul ketika armada meninggalkan markas. Kendaraan berukuran besar harus melewati jalan sempit, gapura rendah, kendaraan yang terparkir, serta kemacetan di sejumlah ruas Kota Bandung.

Diskarmatan menetapkan target waktu respons maksimal 15 menit sejak laporan diterima hingga petugas tiba di lokasi. Persiapan keberangkatan dapat dilakukan dalam waktu kurang dari lima menit, tetapi durasi perjalanan sangat bergantung pada kondisi jalan.

“Kalau kami sering dikatakan terlambat, sebenarnya kami terhambat,” ujar Iqbal.

Meski berpacu dengan waktu, operator tetap harus mengutamakan keselamatan. Penggunaan sirene dan lampu rotator tidak berarti petugas dapat mengabaikan kehati-hatian. Setibanya di lokasi, setiap anggota regu juga harus menjalankan tugas sesuai peran dan arahan.

Setelah api berhasil dipadamkan, tugas belum sepenuhnya selesai. Petugas memastikan kondisi lokasi aman, memeriksa perlengkapan, memastikan jumlah anggota lengkap, dan menyiapkan kembali kendaraan agar siap digunakan untuk tugas berikutnya.

Bagi Iqbal, salah satu momen paling membahagiakan adalah ketika melihat warga kembali tenang setelah kebakaran ditangani dan memastikan tidak ada korban. Lambaian tangan serta ucapan terima kasih dari masyarakat menjadi penyemangat untuk terus bekerja dan berlatih.

Namun, ada pula kesedihan ketika perjalanan menuju lokasi terkendala. Ia membayangkan, jika petugas dapat tiba lebih awal, api mungkin masih kecil sehingga dampak kebakaran dapat ditekan.

Setelah bertugas, Iqbal kembali menemukan sumber semangat di rumah. Melihat istri dan anaknya yang masih kecil membuat rasa lelah terasa berbeda. Keluarga menjadi alasan baginya untuk terus menjaga diri, meningkatkan kemampuan, dan menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.

Kesiapsiagaan Sendi dan Iqbal merupakan bagian dari sistem kerja yang lebih besar. Pengaturan regu, armada, jadwal piket, dan prosedur disusun agar layanan pemadam kebakaran dan penyelamatan tetap berjalan sepanjang hari.

Bekerja dengan Sistem Piket 24 Jam

Kepala Bidang Pemadaman Diskarmatan Kota Bandung Leonard menjelaskan, petugas bekerja dengan sistem piket selama 24 jam. Bidang pemadaman didukung 207 personel dan empat unit pelaksana teknis di wilayah utara, selatan, timur, dan barat. Sementara itu, tim penyelamatan memiliki 43 personel.

Armada Diskarmatan mencakup 20 unit mobil pancar, tiga mobil tangki air, kendaraan tangga, dua kendaraan penyelamatan (rescue), dan kendaraan pendukung lainnya.

Berdasarkan data Diskarmatan Kota Bandung, sepanjang Januari hingga September 2026 tercatat 49 kejadian kebakaran. Pada periode yang sama, terdapat 135 kejadian animal rescue atau penyelamatan hewan dan 19 kejadian human rescue atau penyelamatan manusia.

Leonard menjelaskan, kebakaran lahan terbuka turut menjadi perhatian saat musim kemarau. Kejadian semacam ini banyak ditemukan di wilayah utara dan timur Kota Bandung yang masih memiliki lahan terbuka. Sementara itu, kawasan permukiman padat dengan akses jalan sempit menghadirkan tantangan tersendiri bagi petugas.

Di lapangan, penanganan kebakaran tidak hanya berkaitan dengan upaya memadamkan api. Petugas juga harus menghadapi akses yang sulit, kondisi bangunan, ketersediaan sumber air, serta situasi warga di sekitar lokasi.

Ia menegaskan, latihan rutin merupakan bagian penting dari kesiapan personel. Keberanian harus dibangun melalui keterampilan, kedisiplinan, dan kepatuhan terhadap prosedur.

“Pemadam itu bukan orang yang jago, tetapi orang yang terlatih,” kata Leonard.

Di balik sirene yang meraung, ada petugas yang terus berlatih, memeriksa perlengkapan, dan bersiap menghadapi situasi yang tidak terduga. Bagi mereka, keberhasilan bukan hanya ketika api berhasil dipadamkan atau korban dievakuasi, tetapi juga ketika seluruh anggota regu dapat kembali dengan selamat dan pulang menemui keluarga. (Diskominfo Kota Bandung)

Editor: Revo

Berita Terkait