Pabrik Kina Bandung, Jejak Sejarah Industri Farmasi Indonesia Sejak 1896

Diterbitkan

Kamis, 20 Agustus 2026

Penulis

Diskominfo Kota Bandung

|

Diskominfo Kota Bandung

155 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

preview hero banner

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung mengangkat sejarah eks Pabrik Kina sebagai jejak penting perkembangan industri farmasi Indonesia sejak 1896.

Eks Pabrik Kina berada di kawasan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, dan berdiri 29/6/1896 bernama Bandoengsche Kinine Fabriek N.V.

Pada masa itu, kina menjadi bahan utama obat malaria sehingga memiliki nilai strategis bagi kebutuhan kesehatan masyarakat.

Tingginya kebutuhan pengobatan malaria mendorong industri kina berkembang sekaligus menghubungkan Bandung dengan perdagangan kina internasional.

Manajer Pengelolaan Aset PT Kimia Farma Hilman Firmansyah mengatakan Pabrik Kina menjadi bagian perjalanan industri farmasi Indonesia.

“Pabrik Kina ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Berdiri sejak 1896, kawasan ini menjadi bagian dari perjalanan industri farmasi Indonesia dan menunjukkan bagaimana Bandung pada masa itu sudah terhubung dengan perdagangan kina dunia,” ujar Hilman.

Pengelolaan pabrik berubah pada 1939 ketika diserahkan kepada Indische Combine Voor Chemische Industrie (Inschen).

Saat pendudukan Jepang sekitar 1942, pabrik diambil alih dan dikenal dengan nama Rikuyun Kinine Seizoshyo.

Setelah Jepang menyerah 1945, pabrik kembali dikelola Belanda sebelum dinasionalisasi Pemerintah Indonesia pada 1958.

Pabrik Kina kemudian menjadi bagian perjalanan perusahaan negara bidang farmasi dan alat kesehatan hingga berkembang menjadi PT Kimia Farma (Persero) Tbk.

Pada masa kejayaannya, kina Bandung tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga masuk jaringan perdagangan internasional.

Dokumen perdagangan 1916 mencatat transaksi dan kredit pengiriman kina dari Bandung menuju Rusia sebagai bagian perdagangan internasional.

Saat pendudukan Jepang, produksi pil dan tablet kina dari Bandung sebagian besar dikirim ke Jepang serta wilayah lain.

Kina tersebut digunakan untuk mendukung kepentingan Jepang selama Perang Pasifik, sedangkan masyarakat memperoleh tota kina.

Tota kina merupakan kina yang belum dipisahkan dari berbagai alkaloid yang terkandung di dalamnya.

Kebutuhan operasional kemudian mendorong pemindahan produksi ke pabrik baru di Banjaran, Kabupaten Bandung pada 2020.

Hilman menilai sejarah tersebut menunjukkan kontribusi Pabrik Kina terhadap kesehatan sekaligus perdagangan internasional pada masanya.

“Ini bukan hanya cerita tentang sebuah bangunan atau pabrik, tetapi tentang bagaimana sebuah industri di Bandung pernah memiliki peran dalam rantai pasok kina dunia. Karena itu, nilai sejarahnya penting untuk terus dikenalkan kepada generasi sekarang,” katanya.

Kini, eks Pabrik Kina menjadi pengingat perjalanan industri farmasi Indonesia dan keterhubungan Bandung dengan dinamika kesehatan global.

(Diskominfo Kota Bandung/bhf)

Editor: Humas Jabar

Berita Terkait