PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Akademisi dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (IPB) dan University of Nottingham membuat perangkat lunak untuk memprediksi kebakaran lahan gambut. Perangkat bernama PEATFR itu menerapkan pendekatan stokastik, machine learning, dan optimisasi dalam memprediksi kebakaran gambut.
Metode yang dipakai diarahkan untuk membantu pemantauan, pencegahan, pengalokasian sumber daya, serta pengambilan kebijakan berbasis informasi ilmiah.
Bagus Putra Muljadi dari University of Nottingham, mengatakan bahwa perhatian publik sering terserap pada penyebab langsung, kronologi, dan penanganan darurat setelah kebakaran lahan. Namun, aspek pencegahan kebakaran masih kurang difokuskan.
"Pencegahan menuntut pertanyaan yang diajukan lebih awal: kapan dan di mana suatu bentang gambut menjadi cukup kering dan rentan sehingga sebuah sumber penyalaan dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan? Pertanyaan tersebut dapat didekati secara ilmiah," ucap Bagus dalam Seminar Nasional dan Workshop “Memahami dan Mencegah Kebakaran Gambut Tropis
Secara Ilmiah: Pelatihan Penggunaan Metode Komputasi Pemetaan Wilayah Rawan Kebakaran Gambut Tropis”, Rabu (2/9/2026).
Model prediksi tidak menggantikan petugas lapangan atau keputusan pemerintah, tetapi membantu menentukan wilayah yang perlu dipantau lebih intensif, lokasi yang perlu mendapat prioritas restorasi atau pembasahan kembali, serta di mana sumber daya pencegahan sebaiknya ditempatkan lebih awal.
Lebih lanjut, Bagus menjelaskan bahwa PEATFR dapat menjadi sistem peringatan dini kebakaran gambut untuk menekan kerugian, seperti gangguan kesehatan dan kerugian sektor ekonomi.
Dalam seminar tersebut, Adilan Widyawan Mahdiyasa, Dosen Kelompok Keahlian Statistika ITB dan Kepala Laboratorium Statistika dan Komputasi ITB, mengajarkan penggunaan PEATFR secara langsung kepada peserta seminar. Peserta tidak hanya melihat hasil akhir berupa peta atau angka risiko, tetapi diperlihatkan bagaimana metode komputasi dijalankan untuk mengubah data menjadi informasi risiko yang dapat dipakai dalam pengambilan keputusan. Dengan begitu, aparatur pemerintah, peneliti daerah, dan perguruan tinggi dapat memahami cara kerja model, menilai relevansinya terhadap kondisi lokal, serta pada tahap berikutnya menggunakannya dengan data daerah masing-masing.
Jabar sebagai penghubung
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman menambahkan, Jabar bukan salah satu wilayah utama ekosistem gambut Indonesia. Meski demikian, Jabar dapat menjadi penghubung antara riset, kebutuhan lapangan, dan kerja sama antardaerah.
Dalam konteks kebakaran gambut, wilayah yang tidak memiliki bentang gambut luas tetap dapat berkontribusi melalui jejaring pengetahuan, teknologi, pendidikan, dan kapasitas kelembagaan.
"Dari Jawa Barat untuk Indonesia. Kita bisa mengambil lesson learned apa yang dieksplorasi oleh Pak Bagus terkait mitigas, antisipasi, kebakaran hutan, khususnya di lahan gambut," ujar Herman.
Jawa Barat menyediakan ruang untuk mempertemukan kapasitas yang telah tersedia dengan kebutuhan daerah yang berbeda-beda.
Seminar ini akan ditindaklanjuti dengan pelaksanaan pelatihan bagi provinsi dan institusi peserta yang ingin mendalami penggunaan PEATFR serta metode prediksi risiko kebakaran gambut.
Pelatihan akan diarahkan pada sesi teknis dengan kelompok yang lebih kecil, penggunaan data milik daerah, serta pelatihan bagi aparatur dan perguruan tinggi lokal agar mereka mampu menjalankan, mengevaluasi, dan mengembangkan metode tersebut sesuai karakteristik wilayah masing-masing. Dengan cara ini, transfer pengetahuan tidak berhenti di Bandung, tetapi bergerak menuju daerah yang akan menggunakannya.
HUMAS JABAR
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat
Adi Komar