Sambut HUT RI ke-81, Kenali Sejarah Gedung Sate di Museum Gedung Sate

Diterbitkan

Kamis, 13 Agustus 2026

Penulis

Diskominfo Jabar

|

Diskominfo Jabar

65 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

preview hero banner

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, Kota Bandung, terus ditata agar semakin terbuka dan nyaman bagi masyarakat.

Penataan tersebut turut mengubah wajah kawasan Gedung Sate. Halaman Gedung Sate ditata agar terhubung dengan kawasan Gasibu, sementara Jalan Diponegoro dipertahankan dan akan difungsikan sebagai ruang publik.

Di tengah penataan kawasan tersebut, Gedung Sate tetap mempertahankan nilai sejarahnya. Masyarakat dapat mengenal perjalanan panjang bangunan ikonik Jawa Barat itu melalui Museum Gedung Sate yang berada di kompleks Gedung Sate.

Museum Gedung Sate menghadirkan informasi mengenai sejarah bangunan dari masa ke masa dengan memanfaatkan teknologi interaktif melalui konsep Smart Museum.

Gedung Sate mulai dibangun pada 1920 dan pada 1924 menjadi bagian dari kompleks pusat instansi pemerintah atau Gouvernements Bedrijven. Dalam perkembangannya, bangunan tersebut pernah digunakan sebagai kantor jawatan pekerjaan umum dan pengairan.

Gedung Sate juga pernah difungsikan sebagai perpustakaan pusat yang menggabungkan koleksi dari tujuh jawatan. Seiring perubahan pemerintahan dan kebutuhan pelayanan, fungsi Gedung Sate terus berkembang hingga akhirnya dikenal sebagai salah satu simbol Jawa Barat.

Perjalanan sejarah tersebut menjadi bagian yang diperkenalkan kepada masyarakat melalui Museum Gedung Sate.

Bagi pengunjung dari luar daerah, museum menjadi salah satu tempat untuk mengenal sejarah Kota Bandung dan Jawa Barat secara langsung.

Salah seorang pengunjung asal Palembang, Perah, mengaku baru pertama kali mengunjungi Gedung Sate. Ia mendapatkan berbagai informasi baru mengenai sejarah bangunan dan Kota Bandung.

“Banyak informasi baru yang saya jadi tahu. Pengetahuan baru terutama sejarahnya, jadi lebih dalam mengenal sejarah Kota Bandung juga,” ujarnya saat ditemui, Rabu (12/8/2026).

Menurut Perah, kunjungan langsung ke Gedung Sate memberikan pengalaman berbeda dibandingkan hanya memperoleh informasi melalui televisi atau media lainnya.

“Bisa tahu sejarah bukan cuma di daerah kita sendiri, tapi daerah lain juga kita bisa tahu, jadi lebih senang dan happy,” katanya.

Selain nilai sejarah, arsitektur Gedung Sate juga menjadi daya tarik bagi pengunjung. Perah mengatakan bentuk bangunan yang memadukan unsur arsitektur Eropa dan Asia menjadi salah satu alasan dirinya tertarik melihat Gedung Sate secara langsung.

Sementara itu, penataan kawasan Gedung Sate dan Gasibu dilakukan untuk menciptakan ruang publik yang lebih terbuka bagi masyarakat. Halaman Gedung Sate juga ditata dengan menyamakan ketinggiannya dengan kawasan Gasibu sehingga kedua ruang tersebut terlihat lebih menyatu.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya mengatakan penataan tersebut akan membuat halaman Gedung Sate menjadi lebih terbuka bagi masyarakat.

“Halamannya nanti terbuka lebih luas dan lebar,” ujar Dedi.

Dengan penataan kawasan tersebut, Gedung Sate tidak hanya menjadi ikon pemerintahan dan arsitektur Jawa Barat, tetapi juga ruang publik sekaligus tempat masyarakat mengenal perjalanan sejarah daerah.

Bagi masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh sejarah Gedung Sate, Museum Gedung Sate dapat menjadi salah satu pilihan wisata edukasi di Kota Bandung. Tiket masuk museum dibanderol Rp5.000 per orang.

(dika-magang/rka)

Editor: Humas Jabar

Berita Terkait