Sampah Organik Pasirlayung: Kolaborasi Warga, Maggot, dan Ternak Ayam

Diterbitkan

Rabu, 24 Juni 2026

Penulis

Diskominfo Kota Bandung

|

Diskominfo Kota Bandung

461 kali

Berita ini dilihat

3 kali

Berita ini dibagikan

preview hero banner

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung memperkuat pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat di Kelurahan Pasirlayung melalui kolaborasi warga, rumah maggot, peternakan ayam, dan bank sampah terintegrasi pada 23/6/2026.

Program tersebut menjadi bagian dari upaya penanganan sampah kota dengan sistem pengolahan berbasis wilayah agar sampah tidak lagi seluruhnya dibawa ke Tempat Penampungan Sementara.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Pasirlayung Nani Mulyani mengatakan, pengelolaan sampah organik kini sudah dapat diselesaikan langsung di tingkat kelurahan.

"Alhamdulillah di Kelurahan Pasirlayung kami sudah berupaya mengelola sampah sebaik-baiknya. Sampah organik sudah dapat kami tuntaskan di wilayah sehingga tidak lagi dibuang ke TPS," ujarnya.

Saat ini terdapat sejumlah titik pengolahan sampah organik yang tersebar di beberapa RW dengan sistem rumah maggot dan peternakan ayam terpadu.

Lokasi pengolahan berada di RW 02, kantor kelurahan, RW 12, RW 08, RW 06 kawasan Saung Angklung Udjo, dan RW 13 Perumahan Bumi Asri.

Setiap hari sampah organik warga dikirim ke lokasi tersebut untuk diolah menjadi pakan maggot dan pakan ternak ayam.

"Setiap hari petugas pengangkut sampah membawa sampah organik ke rumah maggot maupun kandang ayam. Karena itu sampah organik sudah tidak lagi dikirim ke TPS," jelasnya.

Selain sampah organik, pengelolaan sampah anorganik juga diperkuat melalui 13 Bank Sampah Unit di seluruh wilayah kelurahan.

Sampah bernilai ekonomis dipilah, ditimbang, dan disalurkan ke Bank Sampah Induk melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung.

Sistem tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Kami melibatkan masyarakat, petugas Gaslah, mamang sampah, serta seluruh pengelola lingkungan. Pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama karena sampah berasal dari kita sendiri," katanya.

Di beberapa RW juga dikembangkan fasilitas pengolahan tambahan seperti ground tank, insinerator, serta pengolahan kompos dan pupuk cair.

Hasil pengolahan tersebut dimanfaatkan kembali oleh warga untuk kebutuhan pertanian dan lingkungan rumah tangga.

"Setiap minggu warga datang mengambil kompos maupun pupuk cair hasil pengolahan sampah tersebut untuk dimanfaatkan kembali," ungkapnya.

Pendamping Kawasan Bebas Sampah Kelurahan Pasirlayung Herlan Soemantri menjelaskan, keberhasilan program ini berawal dari perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah dari rumah.

"Sampah harus mulai dipilah dari rumah. Setelah dipilah kemudian diangkut oleh petugas Gaslah setiap hari. Sampah organik yang belum terpilah akan dipilah kembali oleh petugas sebelum masuk ke tempat pengolahan," katanya.

Sampah organik kemudian dipisahkan menjadi tiga kategori, yakni pakan ternak, pakan maggot, dan kompos melalui drum komposter.

"Dengan sistem ini seluruh sampah organik dapat dimanfaatkan. Tidak ada yang terbuang sia-sia," ujarnya.

Berdasarkan data lapangan, produksi sampah organik di Kelurahan Pasirlayung mencapai sekitar 560 kilogram per hari atau sekitar 12 ton per bulan.

Sementara kapasitas pengolahan rumah maggot di RW 02 dan RW 03 saat ini berkisar 50 hingga 75 kilogram per hari.

Target pengembangan kapasitas pengolahan ke depan direncanakan meningkat hingga 300 kilogram per hari untuk memperluas layanan pengolahan sampah di wilayah.

"Target ke depan sesuai rencana Pak Linus, kapasitas pengolahan akan ditingkatkan menjadi sekitar 300 kilogram per hari sehingga lebih banyak sampah warga yang dapat ditangani langsung di wilayah," jelasnya.

Herlan menegaskan kolaborasi seluruh unsur masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan sampah berbasis wilayah.

"Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi harus bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan," katanya.

Sistem terintegrasi di Pasirlayung juga menghubungkan kandang ayam dengan budidaya maggot sehingga limbah tidak lagi menjadi masalah lingkungan.

Kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sementara sampah organik warga menjadi sumber pakan utama.

"Inovasinya adalah seluruh unsur saling terhubung. Kotoran ayam tidak menjadi masalah karena dimanfaatkan oleh maggot. Sampah organik warga juga langsung habis terolah. Sistem ini sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman karena tidak menimbulkan bau," jelas Herlan.

Seluruh sampah organik yang masuk dipastikan habis terolah tanpa menyisakan residu yang dibuang ke TPS.

"Semua habis. Tidak ada sisa sampah organik yang harus dibuang lagi," tuturnya.

Nani Mulyani berharap model pengelolaan ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kota Bandung dalam membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya.

"Harapan kami, mari bersama-sama mengelola sampah dengan baik. Sampah berasal dari kita, maka kita pula yang harus bertanggung jawab mengelolanya. Jika seluruh masyarakat bergerak bersama, persoalan sampah di Kota Bandung dapat kita selesaikan mulai dari lingkungan masing-masing," pungkasnya.

(Diskominfo Kota Bandung/bhf)

Editor: Humas Jabar

Berita Terkait