PORTALJABAR, KOTA BANDUNG - Pemerintah Kota Bandung memperkuat Sistem Keamanan Lingkungan untuk mendeteksi potensi kejahatan, bencana, dan persoalan sosial lebih dini (24/6/2026).
Langkah tersebut disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan saat menghadiri kegiatan Siskamling Siaga Bencana #95 di Kelurahan Neglasari.
Program tersebut mendorong warga lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekaligus mempercepat penanganan berbagai risiko kewilayahan.
Farhan menjelaskan, Sistem Keamanan Lingkungan tidak lagi cukup dimaknai sebagai kegiatan ronda malam semata.
Menurutnya, tingginya mobilitas penduduk di Kota Bandung menuntut pengawasan lingkungan yang lebih aktif dan terukur.
"Bandung ini bagaimanapun juga merupakan kota tujuan untuk kuliah dan sekolah. Pendatang dari luar kota sangat banyak. Dari berbagai pengalaman yang kita hadapi, mulai dari peredaran narkotika, obat-obatan terlarang, paham radikalisme, tindak kekerasan hingga berbagai penyimpangan sosial selalu ada di lingkungan permukiman maupun rumah kontrakan," ujar Farhan.
Ia menilai kepedulian warga menjadi faktor penting dalam mencegah tindak kriminal maupun persoalan sosial lainnya.
Farhan mencontohkan kasus penyekapan perempuan yang terungkap setelah berlangsung bertahun-tahun tanpa diketahui lingkungan sekitar.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya budaya saling mengenal dan saling menjaga antarwarga.
"Hal yang membuat saya berpikir adalah bagaimana seseorang bisa disekap bertahun-tahun di kontrakan tetapi tidak diketahui oleh warga sekitar. Menurut saya, di situ kita semua ikut bertanggung jawab. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita bersama," katanya.
Karena itu, Pemerintah Kota Bandung mendorong penguatan fungsi pencegahan melalui keterlibatan aktif masyarakat di tingkat kewilayahan.
"Fungsi Siskamling itu bukan sekadar ronda sambil membawa kentongan. Paling utama adalah pencegahan. Semangat warga menjaga warga harus kembali dibangun," ucapnya.
Farhan juga meminta pengurus rukun tetangga dan rukun warga memperkuat pendataan penghuni rumah kos maupun kontrakan.
Pendataan tersebut dinilai penting untuk mendukung deteksi dini terhadap berbagai potensi gangguan keamanan lingkungan.
"Kita harus tahu siapa yang tinggal di setiap kamar kos maupun kontrakan. Pendataan ini sangat penting untuk mencegah berbagai persoalan sejak dini," katanya.
Selain aspek keamanan, warga menyampaikan sejumlah persoalan lingkungan seperti titik rawan longsor, drainase rusak, dan potensi banjir.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Farhan menginstruksikan perangkat daerah terkait melakukan survei lapangan pada lokasi yang membutuhkan penanganan segera.
Kelurahan Neglasari juga memperkenalkan sistem pelaporan keamanan berbasis digital yang memudahkan warga menyampaikan informasi secara cepat.
Farhan mengapresiasi inovasi tersebut karena dapat melengkapi layanan darurat Pemerintah Kota Bandung melalui nomor 112, 113, dan 119.
"Kota Bandung harus unggul dalam pelayanan publik, terutama kesehatan, pendidikan, dan administrasi kependudukan. Saya ingin memastikan pelayanan di tingkat kelurahan semakin mudah diakses masyarakat melalui sistem digital," ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Kelurahan Neglasari memaparkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang mengolah 400 hingga 550 kilogram sampah organik setiap hari.
Pengolahan dilakukan melalui rumah maggot, kompos pit, bata terawang, dan tower garden yang tersebar di sejumlah wilayah.
Kelurahan tersebut juga telah memiliki lebih dari 30 unit kompos pit hasil pengembangan bersama masyarakat.
Inovasi tersebut membantu mengurangi volume sampah menuju tempat pembuangan akhir sekaligus menciptakan lingkungan lebih bersih.
Farhan menegaskan, berbagai aspirasi warga akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan prioritas pembangunan kewilayahan.
Menurutnya, keamanan, kebersihan, dan ketangguhan menghadapi bencana hanya dapat terwujud melalui partisipasi aktif masyarakat.
"Kalau semangat warga menjaga warga terus tumbuh, saya optimistis Kota Bandung akan menjadi kota yang semakin aman, tangguh menghadapi bencana, sekaligus nyaman untuk ditinggali," kata Farhan.
(Diskominfo Kota Bandung/bhf)