SMKN 3 Bandung Gelar MICE, Asah Kompetensi Siswa Lewat Praktik Penyelenggaraan Event

Diterbitkan

Jumat, 25 September 2026

Penulis

Diskominfo Kota Bandung

|

Diskominfo Kota Bandung

84 kali

Berita ini dilihat

0 kali

Berita ini dibagikan

PORTALJABAR, KOTA BANDUNG -  SMKN 3 Bandung menggelar Meeting, Incentive, Conference, Exhibition (MICE) sekaligus memperingati Hari Jadi ke-216 Kota Bandung (HJKB) pada Kamis 24/9/2026.

Kegiatan di Jalan Solontongan tersebut menjadi pembelajaran berbasis proyek bagi siswa, khususnya kompetensi keahlian Usaha Layanan Pariwisata (ULP).

Kepala SMKN 3 Bandung Agung Indaryatno mengatakan, kegiatan MICE memberi kesempatan kepada siswa menunjukkan kompetensi melalui praktik nyata, tidak hanya ujian tertulis.

Menurutnya, pembelajaran di sekolah vokasi perlu memberi ruang kepada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan melalui kegiatan yang menyerupai kondisi dunia kerja.

“Bagaimana penilaian ini benar-benar mengukur potensi dan kompetensi kalian secara nyata dengan menyelenggarakan kegiatan MICE. MICE itu Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition,” ujarnya.

Ia menilai, penyelenggaraan kegiatan tersebut juga menjadi momentum bagi siswa untuk membangun kerja sama dan soliditas melalui pengalaman langsung.

Terlebih, kegiatan MICE tahun ini dikaitkan dengan peringatan HJKB ke-216 sehingga siswa juga mengenal dan memaknai momentum penting bagi Kota Bandung.

Agung berharap model pembelajaran berbasis proyek tersebut dapat terus dikembangkan pada program keahlian lainnya di SMKN 3 Bandung.

“Kita harapkan di program yang lain juga menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya proyek operasional. Jadi bukan hanya menjawab soal yang sifatnya di atas kertas, tetapi bagaimana siswa bisa melalui kegiatan-kegiatan semacam ini,” katanya.

Sementara itu, Guru Kompetensi Keahlian Usaha Layanan Pariwisata SMKN 3 Bandung Silvi Yenny menjelaskan, kegiatan MICE memberikan pengalaman kepada siswa dalam menyelenggarakan sebuah kegiatan.

“MICE itu Meeting, Incentive, Conference, dan Exhibition. Intinya menyelenggarakan event. Mereka diajarkan secara teori dari A sampai Z, kemudian produk akhirnya membuat sebuah event,” jelasnya.

Menurut Silvi, kegiatan tersebut merupakan produk akhir siswa kelas XII sekaligus bagian dari ujian sekolah.

Dalam pelaksanaannya, siswa terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan.

Pembelajaran juga dilakukan secara kolaboratif dengan sejumlah mata pelajaran lain, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Kewirausahaan.

Bahasa Indonesia diterapkan dalam penyusunan proposal dan naskah pembawa acara, sedangkan Bahasa Inggris berkaitan dengan kebutuhan industri pariwisata.

Matematika digunakan untuk pengolahan statistik dan peluang dalam perlombaan, sementara Kewirausahaan diterapkan dalam pengelolaan kegiatan usaha.

“Kegiatan ini memang tahunan, tetapi tidak selalu bentuk event-nya seperti ini. Tahun sebelumnya kami pernah menyelenggarakan open house dan festival budaya dengan berkolaborasi bersama ISBI,” katanya.

Pada kegiatan tahun ini, siswa juga dilibatkan dalam pengelolaan tujuh UMKM yang hadir di lokasi kegiatan.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kewirausahaan sekaligus memberikan pengalaman mengelola kegiatan secara langsung.

Silvi mengatakan, pengalaman praktik penting bagi siswa SMK karena dunia industri tidak hanya melihat kemampuan teknis (hard skill), tetapi juga kemampuan nonteknis (soft skill).

“Industri sering menggarisbawahi bukan hanya hard skill anak, tetapi juga soft skill. Project ini juga mengasah soft skillmereka, seperti bekerja sama dalam tim, berkolaborasi dengan kolega dan pelanggan, serta bagaimana mereka menangani sebuah event,” ujarnya.

Siswa juga belajar mengelola pembiayaan kegiatan melalui dana usaha yang mereka kelola sehingga harus menyesuaikan konsep dengan kemampuan anggaran yang tersedia.

Menurut Silvi, proses tersebut memberikan gambaran awal kepada siswa sebelum terjun ke industri pariwisata maupun industri penyelenggaraan acara.

Ia menekankan, penyelenggaraan sebuah event tidak berhenti ketika acara selesai.

Siswa juga belajar memahami tiga tahapan penting, yakni pre-event, during event, dan post-event.

“Pesan saya kepada anak-anak, ketika keluar dari sini mereka bisa memaknai apa yang sudah kami lakukan, mulai dari pre-event, during event, sampai post-event. Jadi mereka mempunyai gambaran dasar sebelum turun ke industri,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, SMKN 3 Bandung memberikan pengalaman praktis kepada siswa mengenai proses perancangan, persiapan, pelaksanaan, hingga evaluasi sebuah event.

Kegiatan MICE sekaligus peringatan HJKB ke-216 tersebut menjadi pembelajaran vokasi yang mempertemukan teori dengan praktik melalui kemampuan kolaborasi, komunikasi, kreativitas, kewirausahaan, dan tanggung jawab.

(Diskominfo Kota Bandung/bhf)

Editor: Bayu

Berita Terkait